Jakarta — Musim kemarau tahun ini diprediksi menjadi yang terpanjang dalam catatan cuaca Indonesia. BMKG memperkirakan puncak kekeringan akan terjadi pada Agustus mendatang, membawa ancaman serius terhadap pasokan air bersih di empat provinsi utama Pulau Jawa.
Kementerian PPN/Bappenas sudah mengingatkan bahaya krisis air ini sejak Maret lalu. Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas Dadang Jainal Mutaqin menegaskan bahwa Pulau Jawa menjadi wilayah paling rentan mengalami kekurangan air bersih di Indonesia.
Jakarta Terancam Kekeringan Air Tanah
DKI Jakarta berada di posisi paling genting. Dua masalah besar menekan ketersediaan air di ibu kota: ekstraksi air tanah yang masif dan polusi yang mengkontaminasi sumber air permukaan. Kombinasi ini mempercepat penurunan muka tanah sekaligus merusak kualitas air yang tersedia.
Jawa Barat Alami Penurunan Curah Hujan Drastis
BMKG memprediksi 93 persen wilayah Jawa Barat akan mengalami curah hujan di bawah normal selama musim kemarau. Kota Bandung, Tasikmalaya, Cianjur, Sukabumi, Cirebon, dan Kuningan masuk dalam daftar daerah yang paling terdampak. Kekeringan tahun ini diproyeksikan lebih keras dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Jawa Tengah Siapkan Cadangan Air 123 Juta Liter
BPBD Provinsi Jawa Tengah sudah memetakan daerah rawan kekeringan berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Grobogan, Blora, Rembang, Sragen, Klaten, Pemalang, dan Wonogiri masuk dalam zona waspada. Pemerintah daerah menyiapkan cadangan air bersih hingga 123 juta liter untuk mengantisipasi kebutuhan mendesak.
Jawa Timur Terjebak Dilema Air untuk Pertanian dan Industri
Sektor pertanian di Jawa Timur menyerap hingga 80 persen dari total volume air nasional. Tekanan ini berkejaran dengan kebutuhan domestik di pusat-pusat industri saat curah hujan memasuki fase defisit. Bappenas secara spesifik memasukkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap krisis air bersih. Ancaman ini berpotensi memperburuk kondisi sektor pertanian yang sudah tertekan.
BMKG mencatat bahwa 64,5 persen Zona Musim di Indonesia akan mengalami kondisi hujan bawah normal. Kondisi ini mengancam ketersediaan air bagi kebutuhan rumah tangga jutaan penduduk Jawa. Persiapan dini dan pengelolaan sumber daya air yang bijak menjadi kunci agar krisis ini tidak berujung pada bencana kemanusiaan seperti yang terjadi di beberapa wilayah lain akibat perubahan iklim.

