Jakarta — Harga emas yang meroket ke rekor tertinggi memicu gelombang penambangan ilegal di jantung hutan hujan Amazon, Brasil. Konflik antara penambang liar dan masyarakat adat memuncak, mengancam ekosistem terpenting di planet ini sekaligus membuka celah kejahatan internasional baru.
Kepala suku adat Bepdjo Mekragnotire dari wilayah Adat Bau di negara bagian Para memimpin sekelompok prajurit Kayapo mengusir hampir 200 penambang emas liar selama empat tahun terakhir. Situasi semakin memanas pada Februari lalu ketika senjata sempat diacungkan di kedua sisi saat kedua kelompok bertemu di atas kano.
Harga Emas Rekor Picu Invasi Massal
“Para penambang itu keras kepala. Mereka masuk dengan cara apa pun. Karena saat ini harga emas sangat tinggi,” kata Bepdjo kepada AFP. “Kita harus mengusir mereka, kalau tidak, mereka akan terus menerobos masuk.”
Data Amazon Mining Watch mengungkap dampak mengerikan: area seluas 223.000 hektar terdampak aktivitas pertambangan di Brasil antara tahun 2018 hingga 2025. Hampir 80% di antaranya beroperasi secara ilegal. Skala kerusakan ini menempatkan Amazon dalam ancaman serius yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Krisis ini bermula dari era kebijakan mantan Presiden Jair Bolsonaro yang mendorong iklim impunitas di kawasan hutan tropis terbesar dunia itu. Sejak Presiden Luiz Inacio Lula da Silva menjabat pada 2023, pemerintah memang menindak tegas penambangan ilegal. Namun para pengusaha tambang telah beradaptasi dengan cepat, mengubah operasi dari penambangan artisanal menjadi bisnis bernilai jutaan dolar yang menggunakan mesin berat dan armada pesawat kecil.
Celah Baru: Emas Diselundupkan lewat Guyana dan Venezuela
“Para penambang mundur semakin dalam ke hutan,” ungkap Nilton Tubino, pejabat yang ditunjuk pemerintah Lula untuk memimpin operasi perlindungan wilayah adat. “Kami terus-menerus bergulat dengan tantangan yang ditimbulkan oleh skala wilayah yang sangat besar ini.”
Lonjakan harga komoditas pertanian seperti sawit juga menunjukkan pola serupa di mana fluktuasi harga global berdampak langsung pada aktivitas di lapangan. Harga TBS sawit yang sempat ambruk hingga 50 persen menjadi bukti betapa rentannya komoditas primer terhadap tekanan pasar internasional.
Penindakan pemerintah justru memicu krisis baru menurut Institut Escolhas. Emas yang sebelumnya keluar dari Brasil melalui jalur resmi kini diselundupkan lewat negara-negara tetangga seperti Guyana atau Venezuela. Celah lain berupa “tambang hantu” — lokasi yang memiliki izin penambangan artisanal dan menyatakan penjualan emas, namun ketika dilihat dari udara tidak ada tanda aktivitas penambangan sama sekali.
Brasil memproduksi 71 ton emas pada 2025 yang sebagian besar diekspor ke Kanada, Swiss, dan Inggris. Danicley de Aguiar dari Greenpeace Brasil memperingatkan bahwa emas yang diambil dari kawasan lindung kemungkinan besar dicuci melalui skema semacam itu.
Ancaman terhadap hutan Amazon menggemakan keprihatinan lingkungan global yang semakin mendesak. Masalah penurunan tanah di Jakarta yang dinobatkan sebagai kota dengan subsidence terparah di dunia menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan tidak mengenal batas negara. Para peneliti terus memberi peringatan tentang bahaya penurunan tanah yang mengancam kota-kota besar di seluruh dunia.
Konflik di Amazon ini menjadi cerminan global bagaimana lonjakan harga komoditas strategis dapat memicu kerusakan lingkungan masif sekaligus menciptakan jaringan kejahatan transnasional yang sulit dibendung. Di tengah ketidakstabilan geopolitik yang melanda berbagai belahan dunia, tekanan pada sumber daya alam hanya akan semakin intensif.





