Jakarta — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer negaranya untuk menguasai hingga 70 persen wilayah Jalur Gaza. Langkah ini memperpanjang zona penyangga yang sudah menghancurkan sebagian besar infrastruktur dan kehidupan warga Palestina di kawasan tersebut.
Saat ini Israel secara efektif mengendalikan sekitar 64 persen dari Jalur Gaza. Netanyahu menyatakan bahwa target pengambilalihan wilayah akan terus diperluas secara bertahap.
Arahan Langsung dari Kepala Pemerintahan
“Kami berada di angka 50 persen, kemudian naik menjadi 60 persen. Arahan saya adalah untuk bergerak, mari kita lakukan langkah demi langkah,” kata Netanyahu dalam pernyataan resmi pada Kamis (28/5).
Netanyahu menambahkan, “Pertama-tama, 70 persen. Mari kita mulai dengan itu. Kami menekan mereka (Hamas) dari semua sisi. Kami akan menangani sisa-sisanya.”
Zona Penyangga yang Mengkhawatirkan
Selama ini pemerintah Israel menyebut wilayah yang direbut di Gaza, Suriah, dan Lebanon sebagai zona penyangga. Tujuannya, menurut klaim Netanyahu, adalah mencegah potensi serangan militan pasca-insiden 7 Oktober 2023.
Namun warga Palestina melihat perluasan zona penyangga ini sebagai strategi permanen untuk menggusur mereka dari tanah kelahiran mereka. Kekhawatiran ini semakin kuat seiring bertambahnya wilayah yang dikuasai militer Israel.
Dampak konflik ini tak hanya dirasakan di Timur Tengah. Harga BBM di Indonesia baru saja naik, salah satunya dipengaruhi fluktuasi harga minyak akibat ketidakpastian di kawasan tersebut. Rupiah juga mencatat rekor terlemah terhadap dolar AS.
Serangan Meningkat saat Idul Adha
Arahan Netanyahu muncul bersamaan dengan peningkatan intensitas serangan Israel di Gaza. Militer Israel mengklaim operasi ini menargetkan pemimpin senior Hamas.
Selasa pekan lalu, Israel berhasil membunuh kepala kelompok sayap bersenjata Hamas. Kemudian pada Rabu (27/5), militer Israel meluncurkan serangan yang menargetkan dua pemimpin Hamas lainnya. Serangan tersebut menewaskan 10 orang, termasuk lima anak-anak, serta melukai 18 orang lainnya.
Ironisnya, serangan itu terjadi tepat saat warga Palestina sedang merayakan Idul Adha. Banyak dari mereka berkumpul di tenda-tenda dan bangunan yang sudah hancur akibat bombardir Israel sebelumnya.
Konflik berkepanjangan ini terus memakan korban jiwa sipil. PBB mencatat lebih dari 70 ribu warga Palestina telah tewas sejak agresi militer Israel dimulai. Situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk seiring zona penyangga yang terus meluas.
Di tengah ketegangan ini, langkah diplomatis tetap menjadi harapan. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya memperkuat hubungan internasional Indonesia melalui berbagai inisiatif diplomasi, termasuk isu kemanusiaan di Palestina.





