Today

Emisi Bangunan Meroket 6,5%, UNEP Dorong Perumahan Berkelanjutan sebagai Solusi Iklim

Rizal Ramadhan

Perumahan berkelanjutan desain ramah lingkungan untuk mengurangi emisi karbon

Jakarta — Sektor bangunan global kini menjadi salah satu penyangga terbesar krisis iklim. Data terbaru dari United Nations Environment Programme (UNEP) memperlihatkan bahwa emisi karbon dari industri konstruksi dan properti justru naik 6,5% sejak 2015, padahal seharusnya turun 30% agar selaras dengan target Perjanjian Paris. Angka ini menempatkan perumahan berkelanjutan bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak.

Bangunan Responsibel terhadap 37% Emisi CO2 Global

Laporan Global Status Report for Buildings and Construction 2025-2026 yang dirilis UNEP bersama Global Alliance for Building and Construction menunjukkan data mencengangkan. Sektor bangunan dan konstruksi menyumbang sekitar 37% emisi CO2 terkait energi global, mengonsumsi sepertiga energi dunia, serta bertanggung jawab atas hampir 50% ekstraksi material global.

“Luas lantai bangunan global kini mencapai sekitar 273 miliar meter persegi, tumbuh 1,7% hanya dalam satu tahun,” ungkap Oliver Rapf, Direktur Eksekutif Buildings Performance Institute Europe. Pertumbuhan ini setara empat kali luas kota Berlin atau dua puluh kali lipat kota Delhi. Yang mengkhawatirkan, 77% dari total pertumbuhan tersebut adalah bangunan hunian perumahan.

Sekitar 70% kebutuhan energi bangunan berasal dari sektor hunian. Artinya, setiap rumah baru yang dibangun tanpa memperhatikan efisiensi energi akan menjadi beban tambahan bagi target dekarbonisasi nasional maupun global.

Indonesia: Sektor Bangunan Bakal Menyerap 40% Energi Nasional

Kondisi di Indonesia tidak kalah mengkhawatirkan. Kajian International Finance Corporation (IFC) menyebutkan sektor bangunan menyumbang sekitar 30% konsumsi energi Indonesia saat ini dan diproyeksikan melonjak menjadi 40% pada 2030. Sementara itu, studi CLASP menunjukkan hanya sekitar 6% rumah tangga Indonesia yang memiliki air conditioner (AC). Permintaan AC tumbuh pesat — diperkirakan pada 2050, sebanyak 85% rumah tangga Indonesia akan memilikinya.

Bangunan hijau menjadi solusi paling realistis untuk meredam laju emisi ini. Data menunjukkan green building menghasilkan 30-80% biaya utilitas lebih rendah dibanding bangunan konvensional. Penghematan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan manfaat nyata yang langsung dirasakan penghuni melalui tagihan listrik yang jauh lebih ringan.

Dalam uji lapangan di Jakarta, Medan, dan Bali, AC inverter yang menyesuaikan daya sesuai kebutuhan pendinginan terbukti menghemat listrik hingga 28% dibanding AC non-inverter. Meskipun harganya lebih mahal di awal, penghematan energi jangka panjang mampu menutup selisih biaya tersebut.

Arsitek Indonesia Tawarkan Solusi Desain Vernakular Modern

Yu Sing, arsitek dan pendiri Anakoma Studio yang dikenal dengan pendekatan arsitektur berkelanjutan, menegaskan bahwa Indonesia memiliki keunggulan tersendiri dalam merancang hunian ramah lingkungan. Banyak inspirasi desain rumah vernakular — seperti rumah adat Kanekes (Badui) dan Kampung Naga — yang memanfaatkan material alam dengan prinsip desain pasif.

“Ketika kita menggunakan material dari alam yang dikelola secara berkelanjutan, kita pasti ikut menjaga alam,” kata Yu Sing. Bahkan rumah atau gedung mewah sekalipun, menurutnya, bisa menggunakan desain pasif yang minim AC, hemat air, dan menggunakan material modern dari perkebunan berkelanjutan. Konsep desain seperti ini sejalan dengan tren smart home yang semakin digandrungi masyarakat urban Indonesia.

Namun, desain minim energi saja tidak cukup untuk konteks perkotaan. Perlu didukung perencanaan kota yang minim polusi, termasuk green corridor untuk menurunkan suhu udara. “Pasang AC hemat energi, kran hemat air, material yang pas itu penting. Namun perlu juga memberi ruang untuk penanaman pohon. Targetnya kan penurunan suhu bumi,” ujar Yu Sing.

Investasi Efisiensi Energi Masih Terlalu Kecil

Angka investasi global untuk efisiensi energi bangunan saat ini berada di kisaran US$270-US$300 miliar per tahun dengan target kumulatif US$5,9 triliun sampai 2030. Meskipun sertifikasi bangunan hijau meningkat tiga kali lipat, jumlah ini baru mencakup dua pertiga dari kebutuhan ideal. Lonjakan harga material konstruksi yang terus berlanjut juga menjadi tantangan tersendiri bagi pengembang yang hendak menerapkan standar hijau.

Martin Krause, Direktur Divisi Perubahan Iklim UNEP, menekankan pentingnya kolaborasi antara pendanaan publik dan swasta. “Jika elemen desain ramah lingkungan diterapkan sejak awal, dan bukan sebagai retrofit setelah bangunan selesai, maka biayanya juga akan jauh lebih murah,” katanya. Investasi untuk efisiensi energi pada desain awal bangunan akan terbayar dengan sendirinya karena biaya operasional yang lebih rendah.

Hanane Hafraoui, Programme Officer Global Alliance for Buildings and Construction, menambahkan bahwa energi paling bersih adalah energi yang tidak perlu kita gunakan. Untuk mencapai jalur net zero, intensitas energi bangunan perlu dikurangi setidaknya 25% pada 2030 melalui kode bangunan, standar minimum performa, desain pasif, dan program retrofit.

COP31 Turki: Sektor Bangunan Jadi Sorotan Utama

Sektor bangunan akan menjadi sorotan utama pada COP31 di Turki pada November 2026 mendatang. Keputusan yang diambil hari ini oleh pengembang, arsitek, dan pemerintah akan menentukan emisi, kesehatan, dan kualitas hidup selama puluhan tahun ke depan. Event Megabuild 2026 yang digelar Juni ini di Jakarta juga menjadi momentum penting untuk mendorong adopsi teknologi ramah lingkungan di sektor properti.

Bagi calon pembeli rumah di Indonesia, tren perumahan berkelanjutan ini membawa implikasi penting. Hunian dengan sertifikasi green building bukan hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga menawarkan penghematan biaya jangka panjang yang signifikan. Di tengah meningkatnya risiko cuaca ekstrem yang mengancam properti nasional, ketahanan bangunan menjadi faktor kritis yang tak bisa diabaikan. Dengan tagihan utilitas yang 30-80% lebih rendah, investasi pada hunian berkelanjutan menjadi pilihan cerdas di tengah kenaikan tarif energi yang terus berlanjut.

Related Post

Leave a Comment