Jakarta — Survei terbaru dari Bankrate mengungkap fakta yang mengkhawatirkan: satu dari enam calon pembeli rumah di Amerika Serikat memilih menyerah sepenuhnya setelah gagal menemukan properti yang terjangkau selama lima tahun terakhir. Angka ini mencerminkan krisis perumahan global yang semakin parah, termasuk di Indonesia.
Milenial Paling Terdampak Krisis Perumahan
Laporan Home Affordability Survey 2025 yang dirilis Bankrate menunjukkan bahwa 16% calon pembeli rumah di AS tidak berhasil membeli hunian impian mereka antara 2020 hingga 2025. Kombinasi antara harga properti yang melambung, pasokan terbatas, dan suku bunga KPR tinggi menjadi penyebab utama.
Stephen Kates, analis keuangan di Bankrate, menegaskan bahwa keterjangkauan rumah di AS saat ini berada di level terburuk dalam beberapa dekade. Kombinasi buruk antara harga rumah yang tinggi, pasokan yang rendah, dan suku bunga KPR yang tinggi menyebabkan satu dari enam pembeli rumah selama lima tahun terakhir menyerah sepenuhnya.
Yang mengkhawatirkan, generasi milenial menjadi kelompok yang paling banyak mengubur mimpi memiliki rumah. Sebanyak 22% responden milenial mengaku sudah menyerah, diikuti Generasi X sebesar 17%, dan Generasi Z serta baby boomer masing-masing 12%. Kondisi ini memperkuat tren yang sudah terlihat di Indonesia, di mana gaji milenial tak sebanding dengan harga rumah dan impian memiliki hunian kian jauh darijangkau.
Indonesia Masuk Enam Besar Negara dengan Rumah Paling Tak Terjangkau
Meski belum ada survei serupa di Indonesia, data dari The Economist memperkuat kekhawatiran tersebut. Indonesia menempati urutan keenam sebagai negara dengan harga rumah paling tidak terjangkau di dunia, tepat di bawah Korea Selatan dan di atas China. Peringkat ini sama persis dengan temuan sebelumnya yang menyebutkan bahwa Indonesia masuk 6 besar negara dengan harga hunian paling tak terjangkau.
Daftar negara dengan hunian paling tak terjangkau berdasarkan laporan The Economist didominasi negara Asia, yakni Filipina di posisi pertama, diikuti Sri Lanka, Thailand, India, Korea Selatan, Indonesia, dan China. Amerika Serikat menempati urutan kedelapan, disusul Inggris Raya.
Masalah utamanya bukan sekadar harga yang mahal. Harga rumah naik jauh lebih cepat dibanding laju kenaikan pendapatan masyarakat. Di sisi lain, pasokan hunian baru tidak cukup untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat.
Dampak ke Pasar Properti Indonesia
Kondisi ini berimplikasi langsung ke pasar properti domestik. Jarak yang lebar antara daya beli masyarakat dengan harga rumah membuat banyak kalangan, terutama milenial dan generasi muda, terpaksa menunda atau bahkan membatalkan rencana kepemilikan hunian. Fenomena ini juga dialami Generasi Z yang terjebak gaji imut sehingga rumah di pusat kota makin sulit dijangkau.
Berbagai kebijakan pemerintah seperti insentif PPN DTP 100%, perpanjangan tenor KPR hingga 40 tahun, serta program rumah subsidi memang ditujukan untuk meredam tekanan tersebut. Namun, efektivitasnya masih menjadi pertanyaan besar di tengah laju inflasi dan pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut.













