Jakarta — Pabrik manufaktur elektronik PT Xacti Indonesia resmi menghentikan seluruh operasionalnya di Depok, Jawa Barat. Keputusan penutupan permanen itu disertai pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 350 karyawan, memperkuat tren gelombang pemangkasan tenaga kerja yang menerpa sektor manufaktur nasional sepanjang 2026. Situasi ini sejalan dengan prediksi bahwa badai PHK belum berlalu bagi puluhan ribu pekerja Indonesia.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Partai Buruh, Said Iqbal, membenarkan kabar tersebut dalam konferensi pers yang digelar Senin (25/5/2026). Ia menjelaskan bahwa perusahaan yang dahulu dikenal sebagai PT Sanyo Group itu sudah tidak mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi domestik maupun global.
Perang dan Pelemahan Rupiah Jadi Pukulan Ganda
Said Iqbal merinci dua faktor utama yang mendorong PT Xacti Indonesia tutup total. Pertama, konflik bersenjata antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel menciptakan ketidakpastian pasar global yang berkepanjangan. Kedua, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membengkakkan biaya bahan baku impor. Kondisi rupiah yang sempat hampir menyentuh Rp17.900 per dolar AS menjadi sinyal peringatan bagi pelaku industri.
“Kalau dalam kasus Xacti Indonesia, bukan lagi efisiensi, benar ditutup perusahaannya, karena sudah tidak mampu bersaing. Apalagi Xacti Indonesia kan juga ada produknya di ekspor, produk kameranya. Saat ini pasar global lagi lesu karena perang kan. Nah itulah faktor penyebab utama,” ujar Said Iqbal.
Bahan Baku Impor Naik, Biaya Produksi Membengkak
PT Xacti Indonesia memproduksi berbagai peralatan digital, terutama perangkat digital imaging. Sebagian besar bahan bakunya bersumber dari impor yang harus dibayar dalam denominasi dolar AS. Ketika rupiah terus melemah, ongkos produksi otomatis melonjak sementara daya beli konsumen domestik semakin tertekan.
“Perusahaan juga terdampak dari pelemahan rupiah, karena bahan baku impor kan membelinya pakai dolar, jadi meningkat ongkos produksinya, karena transaksi mereka di Indonesia kan dalam bentuk rupiah,” ungkap Said Iqbal.
Sinyal Dini yang Terlewatkan
Said Iqbal mengungkapkan bahwa sejak dua bulan sebelum pengumuman resmi, PT Xacti Indonesia sudah tidak aktif sebagai anggota KSPI dan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI). Perusahaan disebut sudah dalam tahap persiapan menutup operasional secara permanen, namun banyak pihak yang belum menyadari tanda-tandanya.
“Ini bukan ngarang-ngarang, tidak ada, kami kan langsung dari anggota di bawah, yang biasanya diberitahu dulu, diberi early warning lah oleh perusahaan, pemberitahuan lebih awal oleh perusahaan,” tegasnya.
Dampak Terhadap Pekerja dan Perekonomian Lokal
Penutupan pabrik PT Xacti Indonesia menambah daftar panjang perusahaan manufaktur yang gulung tikar di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil. Bagi 350 karyawan yang kehilangan pekerjaan, tantangan mencari sumber penghasilan baru menjadi semakin berat di tengah tingginya angka pengangguran nasional. Sementara itu, pemerintah terus menggulirkan berbagai stimulus ekonomi termasuk program subsidi EV berbasis nikel untuk menggerakkan industri baru.
Situasi ini menjadi cerminan nyata bahwa ketidakpastian geopolitik global tidak hanya mengguncang pasar keuangan, tetapi juga berdampak langsung ke lantai produksi pabrik-pabrik di berbagai daerah Indonesia.







