Jakarta — Pasar properti Indonesia menghadapi dua wajah yang sangat berbeda pada paruh pertama 2026. Di satu sisi, penjualan rumah menengah merosot tajam. Di sisi lain, rumah super premium senilai puluhan miliar rupiah justru ludes terjual dalam hitungan minggu. Fenomena ini memunculkan pertanyaan: siapa sebenarnya yang masih mampu membeli hunian di tengah tekanan ekonomi?
Penjualan Residensial Anjlok, Segmen Premium Tetap Kinclong
Data Bank Indonesia menunjukkan penjualan properti residensial di pasar primer turun 25,67% secara tahunan pada triwulan I-2026. Angka ini menggambarkan lesunya permintaan rumah menengah yang selama ini menjadi tulang punggung industri properti nasional.
Namun kenyataannya, rumah-rumah berharga fantastis di kawasan elite justru menunjukkan tren berlawanan. Proyek Nava Park di BSD, Tangerang, contohnya, menawarkan unit senilai Rp30 miliar hingga Rp80 miliar yang ternyata cepat habis terjual meski harganya terbilang selangit.
Bukan Gambaran Utuh Pasar Properti
Senior Director of Strategic Consulting JLL Indonesia, Milda Abidin, memperingatkan agar masyarakat tidak salah membaca sinyal dari fenomena ini. Menurutnya, rumah premium yang viral karena harganya yang fantastis sama sekali tidak mencerminkan kondisi pasar secara keseluruhan.
“Ini Rp80 Miliar karena kayaknya viral ya, tapi unitnya mungkin nggak sampai 1% dari semua pengembangan, cuma 14 unit doang. Jadi itu nggak menggambarkan market seluruhnya,” ujar Milda dalam media briefing Jakarta Property Market Update Kuartal I-2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (12/5/2026).
Pembeli Premium Punya Karakter Berbeda
Kelompok pembeli rumah premium dinilai memiliki profil investasi yang sangat berbeda dari pasar menengah. Mereka cenderung lebih fleksibel dalam mengalokasikan dana dan tidak terlalu terpengaruh oleh pelemahan daya beli masyarakat luas.
“Kalau untuk kelas itu mereka untuk investasi akan lebih fleksibel di mana pun,” kata Milda.
Reputasi pengembang juga menjadi penentu utama keputusan pembelian konsumen kelas atas. Kualitas pembangunan dan potensi kenaikan nilai aset di masa depan menjadi pertimbangan utama sebelum menggelontorkan dana puluhan miliar rupiah.
Anomali di Banten: Segmen Atas Justru Bergairah
Ketua DPD AREBI Provinsi Banten, Vemby, membenarkan adanya kejanggalan ini. Kawasan BSD dan Gading Serpong justru mencatat permintaan kuat untuk segmen rumah mewah, meski pasar menengah terpuruk.
“Kalau di Banten ini agak anomali. Ada segmen atas di BSD dan Gading Serpong yang harganya belasan miliar sampai double digit,” ujar Vemby.
Kepercayaan terhadap kualitas pengembang besar menjadi alasan utama mengapa konsumen kelas atas tetap agresif berinvestasi di properti premium meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih. Bagi mereka, rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan aset investasi jangka panjang yang nilainya terus meningkat — kontras dengan kondisi rupiah yang terus melemah dan mengerek biaya konstruksi.











