Jakarta — Nilai tukar rupiah terus tertekan di hadapan dolar AS, menembus level Rp17.865 per dolar. Situasi ini memancing perdebatan: siapa yang diuntungkan dan siapa yang merugi? Dampak pelemahan rupiah sebelumnya sudah merambat ke biaya konstruksi dan cicilan rumah.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menjelaskan pelemahan rupiah membawa dua sisi berbeda bagi pelaku ekonomi. “Pelemahan rupiah memang dapat memberi keuntungan kurs bagi eksportir karena pendapatan dolar bernilai lebih besar saat dikonversi ke rupiah,” ujar Syafruddin.
Eksportir: Untung Belum Tentu Pasti
Eksportir komoditas, manufaktur berorientasi ekspor, dan perusahaan dengan biaya domestik besar dinilai dapat menikmati tambahan margin dari depresiasi rupiah. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Banyak eksportir masih mengandalkan bahan baku impor, mesin impor, energi berbasis harga global, dan pembiayaan valuta asing. “Jika biaya input dolar ikut naik, keuntungan kurs dapat terkikis,” kata Syafruddin.
Data menunjukkan ekspor barang dan jasa tumbuh lebih lambat daripada impor. Artinya, pelemahan rupiah belum tentu langsung mendorong kinerja ekspor secara signifikan. Situasi ini diperparah oleh tiga defisit sekaligus yang menghantam ekonomi Indonesia.
Importir dan Konsumen: Pihak yang Paling Terdampak
Di sisi berlawanan, importir menjadi pihak yang paling cepat merasakan tekanan. Ketika rupiah bergerak ke level Rp17.865 per dolar dan pasar forward mengarah lebih tinggi, importir harus menyediakan rupiah lebih besar untuk membeli dolar.
“Beban ini langsung masuk ke harga bahan baku, barang modal, barang konsumsi impor, obat-obatan, komponen elektronik, pangan tertentu, dan energi,” jelas Syafruddin. Industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri menghadapi tekanan margin karena biaya produksi naik lebih cepat daripada kemampuan menaikkan harga jual.
Situasi ini menciptakan dilema bagi perusahaan: jika menahan harga, laba turun. Jika menaikkan harga, permintaan dapat melemah.
Dampak ke Dompet Masyarakat
Bagi masyarakat biasa, pelemahan rupiah berdampak melalui jalur harga, cicilan, pendapatan riil, dan ekspektasi. “Masyarakat mungkin tidak langsung membeli dolar, tetapi mereka membeli barang yang memakai komponen impor,” ujar Syafruddin.
Harga elektronik, kendaraan, obat-obatan, bahan pangan tertentu, produk energi, biaya pendidikan luar negeri, perjalanan internasional, dan barang konsumsi modern berpotensi naik saat rupiah melemah.
Jika suku bunga tetap tinggi untuk menjaga rupiah, kredit kendaraan, KPR, pinjaman usaha, dan biaya modal juga ikut terasa lebih berat. Bahkan harga material bangunan sudah meroket 15 persen akibat pelemahan rupiah. Inflasi saat ini masih terkendali di sekitar 2,42 persen, tetapi pelemahan rupiah dapat menggerus daya beli jika berlangsung lama.
Apa yang Perlu Dilakukan?
Syafruddin menilai pemerintah perlu menjaga pasokan, menahan biaya logistik, memperkuat stabilisasi pangan, dan memastikan kebijakan kurs tidak terlambat merespons ekspektasi pasar. Sementara itu, pelaku usaha didorong memperkuat lindung nilai, memperbesar kandungan lokal, memperbaiki efisiensi, dan menata ulang rantai pasok.
“Jadi, masyarakat membayar pelemahan rupiah bukan hanya di money changer, melainkan juga di pasar, toko, cicilan, dan tagihan rumah tangga,” pungkas Syafruddin.











