Jakarta — Ancaman ganda menerjang kawasan Pantai Utara Jawa. Penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan laut bergerak berbarengan, mengancam nyawa 55 juta penduduk serta aset properti bernilai triliunan rupiah di sepanjang garis pantai. Kondisi ini makin diperparah pelemahan rupiah yang sudah menembus Rp18.000 per dolar AS, memukul daya beli masyarakat. (Baca: Dampak Rupiah ke Harga Rumah)
Penurunan Tanah Mencapai 20 Sentimeter Per Tahun
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkap data memukau tentang kondisi kritis Pantura. Penurunan muka tanah di kawasan tersebut mencapai 15 hingga 20 sentimeter per tahun, dengan Jakarta dan Semarang sebagai titik terparah.
“Saya ingin menyampaikan bahwa telah terjadi penurunan permukaan tanah mulai 15 cm hingga 20 cm per tahun, paling buruk terjadi di Jakarta dan juga di Semarang,” ujar AHY beberapa waktu lalu.
Twin Pressure: Tanah Turun, Air Laut Naik
Situasi makin pelik karena kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global turut terjadi bersamaan. Permukaan laut meningkat 0,8 hingga 1,2 sentimeter per tahun di area yang sama. AHY menyebut kondisi ini sebagai “twin pressure” yang memperbesar risiko banjir rob menghantam permukiman warga.
“Ini mengakibatkan terus mengintainya banjir rob yang bisa menghancurkan properti, merusak rumah-rumah warga dan lain-lain,” katanya. Banjir rob bukan lagi sekadar ancaman musiman, melainkan potensi bencana tahunan yang menggerus nilai properti di kawasan pesisir.
27 Persen PDB Nasional Terancam
Bukan sekadar soal rumah warga yang terendam. Pantura menyumbang sekitar 27,53 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional pada 2025, senilai US$368,37 miliar. Tanpa intervensi serius, penggenangan air laut di kawasan tersebut pada 2050 diprediksi jauh lebih parah.
Masyarakat pesisir juga mulai menghadapi ancaman krisis air bersih karena intrusi air laut yang semakin masif. Pemerintah DKI Jakarta bahkan sudah membebaskan PBB-P2 100 persen untuk rumah tapak dan rusun guna meringankan beban warga. (Baca: Kebijakan PBB-P2 DKI Jakarta)
BRIN Siapkan Lima Teknologi Penahan Rob
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menyiapkan lima teknologi perlindungan pesisir, mulai dari tanggul modular multifungsi, breakwater saling mengunci otomatis, hingga platform arus laut yang mampu menghasilkan energi. Kepala BRIN Arif Satria menegaskan teknologi tersebut memiliki stabilitas tinggi dan lebih ekonomis.
Selain itu, BRIN mengembangkan pendekatan hybrid eco-engineering melalui kombinasi infrastruktur dan rehabilitasi mangrove untuk meredam gelombang laut sekaligus memulihkan ekosistem pesisir. Teknologi mitigasi banjir seperti ini menjadi kunci mengingat perubahan iklim sudah mulai berdampak langsung pada sektor perumahan. (Baca: BTN Housingpreneur dan Mitigasi Banjir)
Prabowo Minta Master Plan Dipercepat
Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah meminta penyusunan master plan perlindungan Pantura dipercepat. Langkah ini bertujuan agar ancaman terhadap warga di kawasan tersebut bisa segera diatasi.
Peneliti BRIN Tubagus Solihuddin menjelaskan bahwa 65,8 persen garis pantai Pantura dari Serang hingga Situbondo telah mengalami erosi. Abrasi dipicu tingginya tekanan pembangunan dan eksploitasi kawasan pesisir selama puluhan tahun. Tanpa solusi jangka panjang, properti di kawasan Pantura akan terus kehilangan nilainya.











