Jakarta — Transaksi digital di Indonesia terus menunjukkan grafik menanjak yang signifikan. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,15 miliar transaksi pada April 2026, tumbuh 42,86 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini mempertegas bahwa masyarakat Indonesia semakin meninggalkan uang tunai dan beralih ke mekanisme pembayaran nontunai.
QRIS Jadi Motor Utama Pertumbuhan
Pencapaian paling mencolok datang dari Quick Response Indonesian Standard (QRIS). Sistem pembayaran berbasis kode QR ini mencatat pertumbuhan fantastis sebesar 108,43 persen year-on-year. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo membeberkan data ini dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur di kantor Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
“Volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,15 miliar transaksi atau tumbuh 42,86 persen (yoy) pada April 2026 didukung oleh perluasan akseptasi pembayaran digital,” ujar Perry.
Pertumbuhan triple digit ini bukan sekadar angka statistik. Di baliknya terdapat perluasan infrastruktur merchant dan jumlah pengguna yang terus meluas. Dari warung pinggir jalan hingga gerai ritel modern, kode QR kini menjadi pemandangan yang makin sulit ditemukan absen dari setiap transaksi.
Mobile dan Internet Banking Turut Menguat
Selain QRIS, kanal pembayaran digital lain juga menunjukkan kinerja positif. Volume transaksi melalui mobile banking tumbuh 15,92 persen, sementara internet banking mencatat pertumbuhan 22,95 persen year-on-year. Kombinasi ketiga kanal ini membentuk ekosistem pembayaran digital yang kian matang dan merata di berbagai lapisan masyarakat. Terkait stabilitas keuangan, kenaikan BI Rate ke 5,25 persen juga menjadi perhatian utama pelaku pasar.
BI-FAST dan BI-RTGS Catat Rekor Baru
Dari sisi infrastruktur kliring, BI-FAST mencatat 490 juta transaksi ritel dengan nilai mencapai Rp 1.219 triliun pada April 2026. Pertumbuhan volume transaksi melalui platform ini mencapai 46,09 persen year-on-year.
Sementara itu, transaksi bernilai besar yang diproses melalui BI-RTGS tercatat sebanyak 0,91 juta transaksi, tumbuh 25,72 persen year-on-year. Nilai nominal transaksi BI-RTGS bahkan melonjak 14,55 persen menjadi Rp 17.520 triliun. Capaian ini menunjukkan bahwa tidak hanya ritel, korporasi dan institusi keuangan besar pun makin bergantung pada infrastruktur digital.
Uang Tunai Masih Eksis, Tapi Terus Tergerus
Menariknya, meskipun transaksi digital meledak, uang kartal yang beredar tetap tumbuh 14,61 persen menjadi Rp 1.301 triliun. Angka ini mengindikasikan bahwa kebutuhan akan uang tunai belum sepenuhnya tergantikan, terutama di wilayah dengan penetrasi internet masih terbatas. Namun, tren jangka panjang menunjukkan bahwa dominasi uang tunai perlahan tapi pasti tergerus oleh kecepatan dan kemudahan pembayaran digital. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perbandingan investasi emas versus properti menjadi semakin relevan bagi masyarakat.
Dampak Luas terhadap Ekonomi Nasional
Pertumbuhan transaksi digital ini membawa implikasi strategis bagi ekonomi nasional. Efisiensi biaya transaksi yang ditawarkan pembayaran digital memangkas jarak antara pelaku usaha kecil dengan konsumen. UMKM yang sebelumnya bergantung sepenuhnya pada uang tunai kini memiliki akses lebih luas ke pasar digital.
Perry menegaskan bahwa pertumbuhan ini didukung oleh ekosistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal. Pemerintah dan Bank Indonesia terus berupaya memperluas jangkauan infrastruktur digital hingga ke pelosok daerah, memastikan manfaat ekonomi digital bisa dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Di sisi lain, pelemahan rupiah yang nyaris tembus Rp18.000 menjadi tantangan tersendiri yang perlu diantisipasi oleh pelaku ekonomi.











