Jakarta — Nilai tukar rupiah terus tertekan oleh kenaikan dolar AS yang agresif sepanjang Mei hingga awal Juni 2026. Kondisi ini mulai mengancam biaya konstruksi dan harga jual rumah, khususnya di segmen menengah ke bawah yang selama ini menjadi penopang program perumahan nasional. Tekanan serupa juga dirasakan di pasar modal, di mana IHSG dan rupiah mengalami guncangan signifikan sepanjang Juni 2026.
Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Joko Suranto memperingatkan bahwa dampak pelemahan rupiah terhadap industri perumahan baru akan terasa secara signifikan dalam tiga hingga enam bulan ke depan. Para pengembang masih bisa menahan kenaikan biaya untuk sementara, namun setelah itu situasinya berpotensi menjadi jauh lebih kritis.
Bahan Bangunan Impor Jadi Penekan Utama
Sebagian besar bahan bangunan yang digunakan dalam proyek perumahan Indonesia memiliki komponen impor, mulai dari besi baja, semen, hingga peralatan elektrik. Ketika rupiah melemah, harga material ini otomatis melonjak karena harus dibayar dalam denominasi dolar AS.
Joko menjelaskan bahwa sektor yang paling merasakan dampak langsung adalah industri manufaktur padat karya dengan pinjaman berdenominasi dolar AS atau bahan baku dari luar negeri. Tekanan biaya ini kemudian berimbas ke seluruh rantai pasok industri perumahan, termasuk kontraktor dan pemasok material lokal. Fenomena ini diperparah oleh lonjakan harga material konstruksi yang sudah menekan margin pengembang rumah subsidi.
Perumahan Rakyat Paling Rentan Terkena Dampak
Joko menegaskan bahwa segmen perumahan rakyat dan rumah bersubsidi adalah yang paling terdampak dari kenaikan dolar AS. Sementara itu, segmen perumahan mewah relatif lebih tahan karena konsumennya memiliki daya beli yang jauh lebih kuat dan tidak terikat pada mekanisme subsidi pemerintah.
“Kalau komersil bisa berdampak, kalau yang tidak terdampak itu adalah mereka yang di level atas ya, rumah mewah ya. Yang tidak terdampak itu adalah level paling atas, karena mereka punya pilihan, punya daya dukung tinggi. Sedangkan kelas menengah kan tidak punya pilihan,” tegas Joko.
Kontraktor Sudah Mulai Merasakan Kenaikan Biaya
Ketua Umum Aliansi Pengembang Perumahan Nasional (Appernas) Andriliwan Muhammad mengakui bahwa kenaikan harga bahan bangunan sudah mulai dirasakan oleh kontraktor dan pengusaha material. Namun, dampaknya masih belum terlalu besar karena stok bahan baku yang ada belum habis terpakai.
“Oh udah terasa. Sudah terasa kenaikan bahan-bahan bangunan. Tapi itu masih sebagian ya, belum terasa banget lah,” ujar Andre.
Ia memperkirakan dampak serius baru akan muncul dalam dua hingga tiga bulan mendatang, ketika persediaan bahan baku yang dibeli dengan harga lama sudah habis dan harus digantikan dengan material baru yang harganya lebih tinggi.
Semangat Mendukung Program 3 Juta Rumah Tetap Dipertahankan
Meskipun menghadapi tekanan biaya yang meningkat, Andre menegaskan bahwa para pengembang anggota Appernas tetap berkomitmen untuk mendukung program pemerintah membangun tiga juta unit rumah. Kebijakan tenor KPR 40 tahun yang baru diperkenalkan menjadi salah satu instrumen yang diharapkan bisa menjaga permintaan tetap bergerak.
“Tapi bagi kami, dengan kenaikan dolar itu tidak akan mempengaruhi semangat kami untuk mendukung program 3 juta rumah. Apalagi dengan adanya tenor 40 tahun. Kami berupaya untuk memenuhi program pemerintah tersebut,” papar Andre.
Situasi ini menuntut perhatian serius dari pemerintah untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga rumah di segmen subsidi. Jika harga material terus merangkak naik tanpa ada intervensi kebijakan, target kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah bisa tertunda jauh lebih lama dari yang diproyeksikan. Kondisi ini sejalan dengan tren pelemahan rupiah yang sudah memecahkan rekor terburuk dan berdampak luas ke sektor perumahan.













