Jakarta — Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data yang mengkhawatirkan bagi siapa pun yang berencana membangun rumah di Indonesia tahun ini. Indeks Harga Impor (IHM) secara umum melonjak 9,97% pada kuartal I-2026, dari 111,31 menjadi 122,41 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini menandakan biaya material konstruksi yang bergantung pada pasokan impor kian membengkak.
Semen Impor Naik 56%, Pukulan Telak untuk Biaya Konstruksi
Data BPS menunjukkan kelompok barang garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) mencatat inflasi impor tertinggi kedua sebesar 56,10% year-on-year. Dampaknya langsung terasa di lapangan. Kenaikan ini beriringan dengan tren harga semen nasional yang sudah mulai merangkak naik sejak awal tahun. Para pengembang perumahan dan kontraktor kecil mengaku sudah mulai menaikkan harga jual dan ongkos bangun sejak kuartal awal 2026.
“Kenaikan harga semen impor ini bukan sekadar angka di atas kertas. Setiap sak semen yang naik Rp3.000 hingga Rp5.000 akan terakumulasi menjadi jutaan rupiah untuk satu proyek rumah tipe 36,” jelas seorang kontraktor di kawasan Tangerang Selatan yang enggan disebut namanya.
Perabotan dan Lampu Impor Juga Melambung
Bukan hanya semen. Golongan perabotan, lampu, dan alat penerangan (HS 94) mengalami kenaikan harga impor sebesar 28,25%. Kategori ini mencakup fixture kamar mandi, lampu hias, kabinet dapur, hingga kusen aluminium yang selama ini banyak diimpor dari China dan Vietnam. Bagi mereka yang sedang merencanakan renovasi rumah atau membangun hunian baru, biaya finishing kini menjadi beban tambahan yang signifikan.
Kenaikan ini berlapis. Dollar AS yang menguat hingga menembus Rp18.000 per dolar membuat daya beli rupiah terhadap barang impor semakin merosot. Konsumen harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan material kualitas impor yang selama ini menjadi andalan.
Strategi Bertahan: Material Lokal Jadi Jawaban
Para ahli konstruksi menyarankan calon pembeli rumah dan pengembang untuk beralih ke material lokal. Semen domestik seperti Semen Indonesia dan Holcim masih menawarkan harga yang lebih stabil meski turut terpengaruh tren kenaikan. Batu bata ringan lokal, panel precast, dan kayu olahan dalam negeri menjadi alternatif yang layak dipertimbangkan.
“Fokus pada efisiensi desain. Rumah tipe 36 dengan layout cerdas bisa menghemat 15-20% material dibanding rumah tipe yang sama dengan desain konvensional,” ujar seorang arsitek yang aktif di kawasan BSD City. Tips lebih lengkap soal strategi hemat biaya bangun rumah bisa ditemukan di panduan tips hemat biaya bangun rumah di tengah pelemahan rupiah.
Prospek Jangka Panjang: Hati-hati Merencanakan Anggaran
Dengan tren inflasi impor yang belum menunjukkan tanda melambat, membangun rumah di 2026 menuntut perencanaan anggaran lebih matang. Calon pembeli sebaiknya menambah buffer minimal 15-20% dari estimasi awal biaya konstruksi. Sementara pengembang perlu mempertimbangkan skema pembayaran fleksibel agar hunian tetap terjangkau bagi masyarakat kelas menengah.
Situasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kemandirian material konstruksi bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak bagi industri perumahan nasional.











