Friday, 29 May 2026

Saham Big Banks Ambruk Jelang Long Weekend, Apa Penyebabnya?

Ilustrasi Bursa Saham Indonesia

Jakarta — Saham-saham perbankan besar Indonesia berjatuhan secara serentak pada sesi penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026), membalikkan keuntungan besar yang sempat diraih di sesi pagi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat melesat 87,69 poin atau 1,43% ke level 6.217,88 pada sesi pertama, akhirnya ditutup merosot tipis 2,8 poin (-0,05%) ke level 6.127,38.

Saham Bank Raksasa Komplotan di Zona Merah

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menjadi saham bank dengan penurunan terdalam setelah ambles 5,22% ke level 1.270. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga terkoreksi 4,60% ke posisi 5.700 dengan nilai transaksi jumbo mencapai Rp5,82 triliun. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 3,91% ke level 2.950 dengan nilai transaksi mencapai Rp3,19 triliun.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) ikut terkoreksi 3,65% ke posisi 3.700, sementara PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 1,21% ke level 4.080. Saham bank swasta seperti PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN), dan PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) juga ditutup di zona merah.

Aksi Profit Taking Menjelang Long Weekend

Pengamat pasar modal Elandry Pratama menjelaskan bahwa koreksi saham big banks lebih banyak dipengaruhi aksi profit taking jangka pendek, setelah beberapa hari sebelumnya perbankan sudah rebound cukup signifikan. “Jadi wajar kalau menjelang weekend sebagian pelaku pasar memilih locking profit terlebih dahulu,” kata Elandry kepada CNBC Indonesia, Jumat (29/5/2026).

Sentimen global terhadap pasar masih cenderung mixed, terutama terkait arah suku bunga Federal Reserve, pergerakan yield obligasi AS, dan pelemahan rupiah yang membuat risk appetite investor asing sedikit lebih berhati-hati di akhir sesi. Rotasi dana juga terlihat mulai bergerak ke beberapa saham konglomerasi dan cyclical yang belakangan lebih aktif.

“Namun sejauh ini saya melihat koreksinya masih relatif normal dan belum mengubah outlook sektor perbankan secara fundamental, karena likuiditas dan kualitas aset bank-bank besar masih cukup solid,” kata Elandry. “Jadi untuk investor menengah-panjang, kondisi ini menurut saya masih lebih ke healthy consolidation dibanding perubahan tren besar,” lanjutnya.

Sedikit Saham Bank yang Bertahan

Di tengah tekanan sektor perbankan, hanya segelintir saham yang masih mampu menguat. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) memimpin penguatan dengan kenaikan 2,59% ke level 1.980, disusul PT Bank Permata Tbk (BNLI) yang naik 0,97% dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) yang menguat 0,31%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun indeks utama sempat menguat signifikan di sesi pagi, aksi ambil untung menjelang akhir pekan panjang mampu membalikkan keadaan. Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap pergerakan pasar global yang masih belum menentu.

Analisis lebih lanjut mengenai pergerakan saham perbankan bisa dibaca di IHSG Melesat 1,43%: Lima Saham Grup Barito Prajogo Pangestu Pimpin Rally Hari Ini dan bagaimana fluktuasi ini berkaitan dengan pelemahan mata uang seperti yang dibahas dalam Rupiah Catat Rekor Terlemah Baru, Dolar AS Tembus Rp17.865.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *