Jakarta — Harga minyak dunia mengalami penurunan drastis setelah harapan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran kian menguat. Kontrak Brent, acuan harga minyak global, merosot ke US$92,74 per barel pada perdagangan Jumat pagi, turun dari posisi US$93,71 per barel sehari sebelumnya.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat juga terkoreksi tajam ke US$87,8 per barel dari US$88,9 per barel. Pelemahan ini memperpanjang tekanan yang sudah berlangsung sepanjang pekan ini.
Selat Hormuz Segera Dibuka Kembali
Kabar terbaru menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata sekaligus membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Selat ini merupakan lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta pengiriman gas alam cair global. Sebelumnya, Iran sempat mengancam akan melakukan “kiamat total” jika AS melanggar kesepakatan (baca selengkapnya).
Wakil Presiden AS JD Vance mengungkapkan bahwa Washington dan Teheran “sudah dekat” menuju kesepakatan final. Namun, beberapa ganjalan terkait stok uranium yang diperkaya Iran dan isu pengayaan nuklir masih perlu diselesaikan.
Anjlok Hampir 17% dalam Dua Pekan
Penurunan harga minyak ini sangat signifikan. Pada 19 Mei 2026, Brent sempat menyentuh US$111,28 per barel dan WTI mencapai US$107,77 per barel. Kini, dalam waktu kurang dari dua pekan, Brent sudah anjlok hampir 17%, sedangkan WTI turun lebih dari 18%.
Selama konflik berlangsung, lalu lintas kapal di Selat Hormuz sempat menyusut drastis dan memicu lonjakan premi risiko geopolitik di pasar minyak. Ketika peluang kesepakatan mulai terbuka, premi perang perlahan menguap dari harga minyak.
Pasar Membuang Ketakutan Geopolitik
Pergerakan harga dalam beberapa sesi terakhir bahkan sangat ekstrem. Ayunan harga harian sempat mencapai US$6 per barel akibat tarik ulur kabar mengenai akhir perang Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Pada 18 Mei, Brent masih berada di US$112,1 per barel, lalu turun ke US$111,28 pada 19 Mei. Harga sempat bergerak naik turun di area US$102-US$105 pada 20-21 Mei sebelum melonjak lagi ke US$103,54 pada 22 Mei. Setelah itu pasar mulai berbalik arah dan terus tergelincir hingga kini berada di US$92,74 per barel.
WTI mengalami pola yang sama. Harga minyak AS sempat berada di atas US$108 per barel pada 18 Mei, lalu turun bertahap menuju area US$96 pada 21-25 Mei. Pada 26 Mei WTI sempat melonjak ke US$93,89, namun sesudah itu kembali melemah hingga tersisa US$87,8 per barel.
Pelemahan harga minyak ini memberikan sinyal positif bagi ekonomi global, terutama bagi negara-negara importir minyak seperti Indonesia yang sangat bergantung pada pasokan energi dari luar negeri. Pemerintah juga telah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp7,8 triliun untuk menjaga stabilitas ekonomi di kuartal II 2026 (simak detail stimulus).







