Jakarta — Pasar properti nasional sedang menunggu sebuah momen besar yang bisa mengubah pola pikir masyarakat selama ini. Bukan rumah baru yang menjadi sorotan, melainkan rumah bekas atau secondary market yang diproyeksikan bakal bersinar terang sepanjang 2026. Proyeksi ini bukan sekadar angin segar belaka, melainkan didorong oleh data riil tentang minimnya pasokan hunian baru di tengah melonjaknya kebutuhan masyarakat.
Backlog Perumahan Jadi Pemicu Utama
Anggota Satgas Perumahan Panangian Simanungkalit memaparkan bahwa pasar secondary memiliki potensi besar untuk tumbuh karena keterbatasan suplai rumah baru dibandingkan peningkatan kebutuhan hunian masyarakat setiap tahun. Fenomena ini membuka peluang lebih luas bagi masyarakat untuk memiliki hunian dengan harga yang lebih terjangkau dan legalitas yang lebih pasti.
Panangian menilai secondary market dapat menjadi solusi untuk memperluas akses kepemilikan rumah di tengah tingginya backlog perumahan nasional. Menurutnya, properti saat ini sudah berada di jalur yang tepat karena ada momentum rumah second masuk ke pasar sekunder. Momentum ini menjadi peluang besar khususnya bagi generasi Z untuk mulai masuk ke pasar properti dengan legalitas yang sudah jelas dan harga yang masih kompetitif. Kecenderungan generasi Z yang mulai melirik rumah bekas ini menjadi tren baru yang sulit diabaikan.
Harga Tanah Premium, Beli Tanahnya Saja Sudah Untung
Keunggulan utama rumah bekas terletak pada lokasinya yang biasanya berada di kawasan premium dengan harga puluhan tahun lalu. Panangian bahkan menegaskan bahwa membeli rumah second ibarat membeli tanahnya saja sudah menguntungkan. Sebagian besar aset rumah bekas sudah berada di kawasan yang hidup, infrastrukturnya terbentuk sempurna, dan harga tanahnya terus meningkat dari tahun ke tahun.
Dari sisi investasi maupun hunian, potensi pasar secondary masih sangat besar. Berbeda dengan rumah baru yang sering kali berada di kawasan berkembang, rumah bekas sudah menikmati fasilitas kota yang matang mulai dari transportasi umum, pusat perbelanjaan, hingga fasilitas pendidikan dan kesehatan.
Puluhan Ribu Aset Bakal Dilelang dalam Waktu Dekat
Yang paling menggembirakan, dalam waktu dekat akan terdapat pelepasan puluhan ribu aset rumah second melalui mekanisme lelang. Pelepasan ini diperkirakan menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. BTN sendiri sudah lebih dulu bergerak cepat dengan menggelar lelang akbar yang menawarkan 10.000 unit rumah second dengan potongan harga hingga 40 persen dari pasaran. Properti yang akan dipasarkan terdiri dari berbagai segmen mulai dari rumah subsidi, rumah komersial, apartemen hingga kavling dengan rentang harga yang variatif.
Seluruh rumah yang akan dilelang sudah melalui pengecekan legalitas sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terkait aspek administrasi maupun status kepemilikannya. Skema Kredit Pemilikan Rumah khusus juga akan dirancang bagi masyarakat yang ingin menyicil rumah second, memperluas jangkauan akses pembiayaan bagi lebih banyak keluarga Indonesia.
Masyarakat Terlalu Fokus pada Rumah Baru
Panangian mengkritik kecenderungan masyarakat yang selama ini terlalu fokus pada rumah baru, padahal rumah second juga memiliki nilai yang tinggi. Dengan edukasi yang tepat, pasar sekunder bisa menjadi motor baru pertumbuhan sektor properti nasional. Penguatan pasar sekunder juga akan memberikan dampak positif bagi industri perumahan secara keseluruhan, termasuk meningkatkan likuiditas pasar properti dan memperluas pilihan hunian bagi masyarakat.
Tren ini menandakan pergeseran paradigma dalam industri properti Indonesia. Masyarakat tidak lagi harus menunggu pembangunan rumah baru yang memakan waktu bertahun-tahun, karena rumah bekas yang sudah berdiri kokoh dan berlokasi strategis kini menjadi alternatif investasi yang semakin menarik. Bagi generasi muda yang ingin segera memiliki hunian, pasar secondary bisa menjadi jawaban atas kebutuhan mereka.












