Jakarta — Mimpi memiliki rumah sendiri kini semakin jauh dari jangkauan generasi muda. Survei terbaru mengungkap fakta mengejutkan bahwa milenial menjadi kelompok yang paling banyak mengubur harapan memiliki hunian dalam lima tahun terakhir.
Laporan Home Affordability Survey 2025 dari Bankrate menunjukkan satu dari enam calon pembeli rumah di Amerika Serikat menyerah sepenuhnya karena tidak mampu menemukan properti yang terjangkau. Kondisi ini memicu kekhawatiran serupa di Indonesia, negara yang masuk dalam jajaran negara dengan harga rumah paling tak terjangkau di dunia. Situasi semakin memburuk ketika data menunjukkan hampir 70% warga Indonesia membeli rumah menggunakan KPR sementara penjualan properti justru anjlok 25 persen.
Krisis Perumahan Global Menghantam Milenial Paling Keras
Stephen Kates, analis keuangan di Bankrate, menjelaskan akar masalahnya. “Kombinasi buruk antara harga rumah yang tinggi, pasokan yang rendah, dan suku bunga KPR yang menyebabkan satu dari enam pembeli rumah selama lima tahun terakhir menyerah sepenuhnya.”
Data Bankrate mengungkap proporsi generasi yang putus asa meningkat signifikan. Milenial menempati posisi teratas dengan 22%, diikuti Generasi X (17%), Generasi Z (12%), dan baby boomer (12%). Angka ini menunjukkan bahwa semakin muda usia seseorang, semakin besar pula tantangan yang dihadapi untuk memiliki rumah. Kenaikan BI Rate menjadi 5,25 persen semakin memperparah kondisi ini karena cicilan KPR menjadi semakin berat bagi generasi muda.
Indonesia Masuk 6 Besar Negara dengan Rumah Paling Tak Terjangkau
Meski belum ada survei serupa di Indonesia, data terbaru dari The Economist menempatkan Tanah Air di peringkat keenam negara dengan harga hunian paling tidak terjangkau di dunia. Filipina menempati posisi pertama, diikuti Sri Lanka, Thailand, India, dan Korea Selatan.
Masalah utamanya bukan sekadar harga yang mahal. Harga rumah naik jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan masyarakat. Biaya konstruksi yang melonjak 15 persen semakin menekan pengembang, membuat harga rumah semakin tak terjangkau bagi generasi muda. Sementara itu, pasokan rumah tidak cukup untuk memenuhi tingginya permintaan dari generasi muda yang ingin memiliki hunian sendiri.
Kondisi ini menciptakan jurang ekonomi yang semakin lebar antara kemampuan finansial generasi muda dengan harga properti yang terus merangkak naik. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, mimpi memiliki rumah sendiri bisa semakin menjadi ilusi bagi jutaan milenial Indonesia.









