Today

Industri Keramik Nasional Bangkit, Utilisasi Pabrik Merangkak ke 75 Persen di 2026

Olivia Destianti

Ilustrasi keramik industri nasional Indonesia membaik

Jakarta — Industri keramik nasional kembali menunjukkan nafas baru setelah sempat terpuruk selama tiga tahun berturut-turut. Tingkat utilisasi atau pemanfaatan kapasitas pabrik keramik Indonesia kini merangkak naik hingga menyentuh angka 72 persen sepanjang Januari hingga Mei 2026. Capaian ini menandai pemulihan signifikan dari posisi terendah 66 persen yang tercatat pada 2024 lalu.

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menargetkan utilisasi industri keramik nasional mencapai 73 hingga 75 persen pada akhir tahun ini. Target tersebut merupakan revisi dari proyeksi awal sebesar 80 persen, namun tetap menunjukkan optimisme pelaku industri terhadap tren pemulihan yang berlangsung.

Puncak dan Titik Terendah Utilisasi Keramik

Sektor keramik nasional pernah mencapai puncak kinerjanya pada 2021 dengan tingkat utilisasi sekitar 75 persen. Namun, tekanan ekonomi global dan persaingan produk impor membuat industri ini merosot hingga ke titik terendah pada 2024. Situasi itu memaksa banyak pabrik beroperasi jauh di bawah kapasitas optimal.

Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto menjelaskan kondisi industri mulai membaik sejak awal 2025. Pemulihan ini ditopang oleh peningkatan permintaan domestik dan strategi produsen lokal dalam menghadapi banjir impor keramik.

“Kita masih bisa mengejar target, kami sudah merevisi. Target awal 80 persen tingkat utilisasi. Namun yang terbaru ini kami merevisi target utilisasi 2026 73 sampai 75 persen,” jelas Edy di Jakarta.

Ekspansi Kapasitas Produksi Mencapai 90 Juta Meter Persegi

Selain pemulihan utilisasi, industri keramik nasional juga gencar melakukan ekspansi kapasitas produksi. Sepanjang 2020 hingga 2024, industri telah menambah kapasitas sekitar 73 juta meter persegi. Rencana ekspansi berikutnya pada 2025 hingga 2029 ditargetkan mencapai 90 juta meter persegi.

Penambahan kapasitas ini bertujuan memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri tanpa bergantung pada produk impor. Dengan kapasitas yang lebih besar, pelaku industri meyakini kualitas dan desain keramik lokal mampu bersaing di pasar global sekaligus memenuhi kebutuhan proyek-proyek premium di Indonesia.

Pameran Megabuild dan Keramika 2026 Jadi Katalisator

Pameran Megabuild, Keramika, dan Megaproperty 2026 yang digelar pada 4-7 Juni mendatang menjadi momentum strategis bagi industri. Ajang ini mengintegrasikan sektor bahan bangunan, keramik, dan properti dalam satu platform untuk mempercepat pertumbuhan bisnis.

Presiden Direktur Panorama Media Royanto Handaya menegaskan pameran ini bukan sekadar etalase produk, melainkan katalisator pertumbuhan ekonomi yang menghubungkan produsen dengan kontraktor, arsitek, pengembang, hingga masyarakat umum.

“Kami merancang edisi 2026 ini bukan sekadar pameran, melainkan katalisator pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Pulihnya industri keramik nasional menjadi sinyal positif bagi sektor properti secara keseluruhan. Ketersediaan material bangunan berkualitas lokal dengan harga kompetitif menjadi kunci bagi pengembang perumahan dalam menjaga harga jual rumah tetap terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah. Lonjakan biaya konstruksi yang sempat melonjak 15 persen tahun lalu bisa mereda seiring stabilnya pasokan material lokal.

Peluang industri keramik juga terlihat dari semarak pameran properti tahun ini. Selain Megabuild dan Keramika, Renotop Building Expo 2026 juga menawarkan diskon besar-besaran untuk material renovasi rumah. Sementara itu, dilema harga rumah subsidi di tengah lonjakan material konstruksi menjadi tantangan tersendiri bagi pengembang yang harus menjaga keseimbangan antara harga jual dan kualitas bangunan.

Dengan utilisasi yang terus meningkat dan kapasitas ekspansi yang masif, industri keramik nasional berpotensi menjadi pilar utama dalam mendukung program perumahan nasional. Keberhasilan sektor ini akan menentukan apakah target pembangunan jutaan rumah bisa tercapai tanpa mengorbankan kualitas material bangunan.

Related Post

Leave a Comment