Today

JD.com Bersumpah Tak PHK Pekerja Gara-Gara AI, Beda dari Raksasa Teknologi Lain

Fajar Nugroho

Ilustrasi kecerdasan buatan AI dan dampaknya terhadap pasar kerja global

Jakarta — Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat kecerdasan buatan (AI) semakin menerjang berbagai sektor di seluruh dunia. Namun, raksasa e-commerce China, JD.com, justru mengambil sikap berbeda: menjamin tidak akan memecat satu pun pekerja yang tergantikan mesin. Komitmen ini muncul di tengah kekhawatiran global yang meluas soal nasib jutaan pekerja di era otomatisasi.

Pendiri JD.com, Liu Qiangdong, menyatakan sikap tegas perusahaannya dalam pidato internal pekan lalu. “Kami berjanji akan melakukan segala upaya untuk melindungi pekerjaan bagi ratusan ribu staf, termasuk pekerja kerah biru,” ujar Liu dalam video yang beredar di media sosial. Dengan jumlah karyawan mencapai 900.000 orang, pernyataan ini menjadi sinyal penting bagi pasar tenaga kerja China maupun global.

AI Ubah Lanskap Kerja Global

Teknologi kecerdasan buatan memang berkembang dengan kecepatan luar biasa. Militer di kawasan Timur Tengah dan Ukraina sudah mengandalkan senjata otomatis tanpa awak. Taksi tanpa sopir atau robotaxi meramaikan jalanan di Amerika Serikat dan China. Berbagai aplikasi sehari-hari kini sudah ditenagai AI, menggeser peran manusia di banyak sektor. Perkembangan ini sejalan dengan tren AI yang merambah hingga perangkat rumah tangga, mengubah cara manusia berinteraksi dengan teknologi sehari-hari.

Di balik efisiensi dan produktivitas yang meningkat, konsekuensinya nyata bagi pekerja. Gelombang PHK makin sulit dibendung di berbagai belahan dunia. Perusahaan-perusahaan besar juga mulai lesu dalam merekrut karyawan baru, sebab sejumlah peran kini bisa ditangani oleh tool AI tanpa campur tangan manusia.

JD.com Bangun 80 Basis Pelatihan Ulang

Alih-alih memecat pekerja, JD.com justru mendirikan lebih dari 80 basis pelatihan di seluruh China. Basis-basis ini berfungsi untuk melatih ulang para pekerja dengan keterampilan baru, seperti pemeliharaan dan servis sistem otomatis. Perusahaan juga bereksperimen dengan teknologi canggih mulai dari gudang tanpa awak, pengiriman drone, kendaraan otonom, hingga stasiun pengiriman tanpa awak. Tren serupa juga terlihat di sektor perumahan, di mana smart home semakin digandrungi masyarakat Indonesia dengan fitur keamanan canggih berbasis teknologi pintar.

Sikap JD.com ini patut diapresiasi mengingat tren yang berlawanan terjadi di banyak negara lain. Di Amerika Serikat, raksasa teknologi justru memangkas ribuan posisi dengan alih-alih mengalihkan tugas ke sistem AI. Kontras ini menunjukkan bahwa ada lebih dari satu cara dalam mengelola transisi menuju era otomatisasi.

China Terbitkan Aturan Perlindungan Pekerja

Komitmen JD.com tidak muncul dalam ruang hampa. Pengadilan China pada akhir April lalu memutuskan bahwa perusahaan tidak dapat memberhentikan karyawan atau memotong gaji hanya untuk menggantinya dengan sistem AI. Otoritas China juga mewajibkan perusahaan untuk melatih ulang atau menugaskan kembali pekerja sebelum mereka boleh diberhentikan.

Langkah regulasi ini menjadi pengamanan awal yang jarang diterapkan negara lain. Di tengah perlambatan ekonomi dan tingginya angka pengangguran kaum muda, pemerintah China tampaknya menyadari bahwa stabilitas pasar tenaga kerja harus dijaga meskipun percepatan adopsi AI menjadi agenda strategis nasional. Tantangan serupa juga dihadapi sektor properti Indonesia, di mana kinerja emiten properti nasional terbelah antara yang melejit dan yang masih sakit-sakitan.

Kasus JD.com membuktikan bahwa kemajuan teknologi dan perlindungan pekerja bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Kunci utamanya terletak pada komitmen perusahaan untuk berinvestasi pada pelatihan ulang, serta keberanian pemerintah untuk menerbitkan regulasi yang melindungi hak-hak pekerja di tengah transformasi digital yang tak terhindarkan.

Related Post

Leave a Comment