Jakarta — Generasi milenial di seluruh dunia semakin kehilangan harapan untuk memiliki rumah sendiri. Survei terbaru Bankrate mengungkap bahwa 16% calon pembeli rumah di Amerika Serikat menyerah sepenuhnya setelah lima tahun berjuang mencari properti yang terjangkau. Angka ini menempatkan milenial sebagai generasi paling putus asa dalam krisis perumahan global.
Stephen Kates, analis keuangan di Bankrate, menegaskan bahwa kondisi keterjangkauan rumah di AS berada di level terburuk dalam beberapa dekade. “Kombinasi buruk antara harga rumah yang tinggi, pasokan yang rendah, dan suku bunga KPR yang tinggi menyebabkan satu dari enam pembeli rumah selama lima tahun terakhir menyerah sepenuhnya,” ujarnya dalam laporan Home Affordability Survey 2025.
Milenial Paling Terdampak, Gen Z Mulai Khawatir
Data Bankrate memperlihatkan disparitas dampak antargenerasi yang tajam. Sebanyak 22% milenial mengubur mimpi memiliki rumah, jauh di atas angka Gen X yang mencapai 17%. Generasi Z dan baby boomer masing-masing tercatat 12%. Pola ini menunjukkan bahwa semakin muda usia seseorang, semakin berat beban finansial yang harus dipikul untuk membeli hunian pertama.
Krisis ini tidak terbatas pada satu negara. Laporan The Economist merilis daftar negara dengan harga rumah paling tak terjangkau di dunia, dan mayoritas berada di kawasan Asia. Filipina menempati posisi pertama, diikuti Sri Lanka, Thailand, India, dan Korea Selatan.
Indonesia Urutan keenam, Siap-siap Dampak Lebih Dalam
Indonesia menempati urutan keenam dalam daftar tersebut, mengalahkan China, Amerika Serikat, dan Inggris Raya. Masalah utamanya bukan sekadar harga yang mahal, melainkan laju kenaikan harga rumah yang jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan masyarakat. Selain itu, pasokan hunian baru tidak cukup untuk memenuhi lonjakan permintaan dari generasi muda.
Kondisi ini diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus berlangsung sepanjang 2026. Harga bahan bangunan impor seperti semen, besi, dan material finishing merangkak naik, memaksa pengembang menaikkan harga jual rumah. Dampaknya langsung dirasakan oleh calon pembeli dari kalangan menengah yang mengandalkan KPR berjangka panjang.
Backlog Perumahan Membengkak, Solusi Tak Kunjung Datang
Di Indonesia, backlog perumahan saat ini mencapai angka yang mengkhawatirkan. Jutaan keluarga masih tinggal di hunian tidak layak atau mengontrak karena tidak mampu mengakses KPR subsidi. Program pemerintah seperti Program Satu Juta Rumah belum mampu menutup celah antara pasokan dan permintaan secara signifikan.
Para pengembang pun terpaksa mengurangi proyek baru. Biaya konstruksi yang melonjak akibat pelemahan rupiah membuat margin keuntungan menyusut tajam. Beberapa pengembang subsidi bahkan mempertimbangkan untuk menunda atau membatalkan proyek-proyek yang sudah direncanakan, memperpanjang daftar tunggu masyarakat yang mendambakan hunian layak.
Apa yang Bisa Dilakukan Milenial?
Para pakar properti menyarankan milenial untuk mempertimbangkan opsi hunian sekunder atau rumah bekas yang harganya relatif lebih terjangkau. Skema KPR berjangka panjang hingga 30 tahun yang baru diluncurkan BTN juga menjadi alternatif, meskipun beban bunga tetap menjadi tantangan besar.
Krisis perumahan global ini mengingatkan bahwa kepemilikan rumah bukan lagi hak yang bisa diraih setiap orang dengan kerja keras semata. Dibutuhkan kebijakan struktural yang berani, mulai dari insentif pajak untuk pengembang, perluasan akses KPR, hingga regulasi yang mengendalikan laju kenaikan harga lahan. Tanpa langkah konkret, mimpi milenial untuk memiliki rumah sendiri akan terus menjadi kargo yang semakin berat untuk dipikul.













