Jakarta — Impian memiliki rumah sendiri semakin jauh dari jangkauan generasi milenial Indonesia. Data terbaru dari The Economist menempatkan Indonesia di peringkat keenam negara dengan harga hunian paling tidak terjangkau di dunia, setelah Filipina, Sri Lanka, Thailand, India, dan Korea Selatan.
Kondisi ini diperparah oleh bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang terus bergerak naik mengikuti tren suku bunga acuan. Banyak pemilik rumah terpaksa menjual propertinya karena cicilan bulanan membengkak di luar kemampuan finansial mereka. Pemerintah melalui BTN sendiri sudah menyalurkan 6 juta KPR subsidi dan kini menargetkan warga tanpa rekening bank.
Gaji Tak Sebanding dengan Harga Properti
Abel Anita, warga Jakarta berusia 33 tahun, mengungkapkan bahwa memiliki rumah masih menjadi impian yang ingin diwujudkan. Namun realitas harga properti saat ini memaksa banyak orang untuk berpikir berkali-kali sebelum mengambil keputusan pembelian.
“Kalau untuk menyerah mungkin enggak ya. Cuma melihat kondisi ekonomi sekarang yang makin ke sini makin parah, jadi kebanyakan orang memilih kontrak dulu sambil nabung atau investasi,” ujarnya.
Abel menilai pendapatan sekitar Rp8 juta hingga Rp10 juta per bulan menjadi batas minimal untuk mulai memikirkan pembelian rumah. Sayangnya, besarnya kebutuhan hidup sehari-hari membuat upaya mengumpulkan uang muka tetap menjadi tantangan berat.
Rumah Subsidi Jauh dari Pusat Kota
Ghina Nanda, warga Depok berusia 32 tahun, membenarkan bahwa rumah masih menjadi impian generasi muda. Namun kemampuan membeli semakin tergerus oleh tingginya harga properti. Program subsidi dari pemerintah pun kerap menghadapi persoalan lokasi yang jauh dari pusat kegiatan ekonomi.
“Rumah subsidi pro rakyat sekarang sudah jauh. Masa saya cari rumah subsidi sudah ke arah sana, menuju Bandung. Kalau tempat tinggal jauh dari tempat kerja, ongkos bertambah, capek juga karena tua di jalan, harus ada kerja lebih dari satu pendapatan biar tercukupi cicil rumah,” kata Ghina yang bekerja di Jakarta.
Bahkan rumah di kawasan Depok yang berada di dalam gang kini banyak ditawarkan dengan harga mendekati Rp1 miliar. Kondisi ini memperlihatkan betapa parahnya krisis keterjangkauan hunian yang melanda kawasan penyangga ibu kota.
UMR Belum Cukup untuk Mengejar Harga Rumah
Doni, warga Jakarta Utara berusia 33 tahun, menilai memiliki rumah tetap menjadi cita-cita hampir semua orang. Namun harga properti yang terus meningkat tidak sejalan dengan kemampuan finansial sebagian besar pekerja.
“Susah karena kondisi UMR saat ini minim. UMR itu diperuntukkan untuk yang bujang, bukan untuk yang sudah berkeluarga,” ujarnya.
Bagi banyak milenial Indonesia, tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana mengejar harga properti yang terus melambung di tengah biaya hidup yang semakin tinggi. Skema KPR untuk pekerja informal tanpa slip gaji menjadi salah satu jawaban, meski belum menyelesaikan masalah utama keterjangkauan.
Akibatnya, semakin banyak generasi muda yang memilih mengontrak, tinggal bersama keluarga lebih lama, atau mencari hunian di wilayah yang semakin jauh dari pusat kota demi mendapatkan harga yang lebih terjangkau.
Situasi ini menjadi cerminan nyata dari kesenjangan antara pendapatan masyarakat urban dengan laju kenaikan harga hunian yang tak pernah berhenti. Tanpa intervensi kebijakan yang lebih agresif, impian memiliki rumah bagi generasi muda akan terus menjadi kemewahan yang sulit diraih.













