Jakarta — Pemerintah Indonesia mulai mengebut pembangunan hunian vertikal bersubsidi terbesar di kawasan Meikarta, Kabupaten Bekasi. Proyek ambisius ini menargetkan 141.000 unit rumah susun (rusun) bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di kawasan industri terbesar Asia Tenggara. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat pemenuhan kebutuhan hunian terjangkau, terutama bagi pekerja di kawasan industri.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait memastikan progres konstruksi berjalan lancar dan sesuai jadwal. Dari total 8.600 pile yang harus terpasang, sebanyak 1.836 unit sudah terpasang hingga akhir Mei 2026. Capaian ini menunjukkan percepatan signifikan dibanding target awal yang ditetapkan pemerintah.
Tiga Lokasi Lahan Siap Dikembangkan
Kementerian PKP menunjuk tiga lokasi lahan hibah dari Lippo Group seluas 30 hektare untuk proyek ini. Skema pembiayaan mengalir melalui Danantara, sementara peran pemerintah bertindak sebagai regulator dan pembuat kebijakan. Model kolaborasi public-private ini diharapkan menjadi template bagi proyek perumahan serupa di daerah lain.
“Saat ini progres pembangunan masih sesuai rencana dan sudah masuk pada tahapan test pile. Dari total 8.600 pile, saat ini sudah terpasang sebanyak 1.836 pile,” kata Maruarar Sirait di lokasi proyek, dikutip Minggu (31/5/2026).
Timeline Pembangunan hingga 2028
Proses konstruksi sudah dimulai sejak land clearing pada Februari 2026, diikuti groundbreaking Maret 2026. Pembangunan struktur ke atas dijadwalkan mulai Agustus 2026, dengan target serah terima pada Agustus 2028. Jangka waktu ini dinilai realistis mengingat skala proyek yang masif.
CEO Lippo Group James Riady menyambut baik percepatan proyek ini. Ia menegaskan bahwa kawasan Meikarta memiliki potensi ekonomi yang sangat besar bagi pertumbuhan nasional. Kontribusi terhadap GDP bisa mencapai 0,8 persen jika proyek berjalan optimal.
“Menurut perhitungan kami, proyek di Meikarta ini bisa menyumbangkan sekitar 0,4 hingga 0,8 persen terhadap GDP sehingga dampaknya sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi,” ujar James Riady.
Solusi Hunian bagi Pekerja Industri
James Riady menjelaskan bahwa sekitar 50 persen industri di Indonesia berada di sekitar kawasan Meikarta dengan ribuan pabrik aktif. Kehadiran rusun subsidi menjadi jawaban atas kebutuhan hunian layak bagi ribuan pekerja di kawasan tersebut. Hal ini sejalan dengan skema KPR subsidi tenor 40 tahun yang tengah digodog pemerintah untuk memperluas akses hunian MBR.
“Kita ingin para pekerja pabrik memiliki hunian yang dekat dengan tempat kerjanya sehingga kualitas hidup mereka menjadi lebih baik dan mobilitasnya lebih efisien,” tambahnya.
Plt. Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja memastikan seluruh proses perizinan pembangunan sudah terpenuhi 100 persen. Dinas Cipta Karya Kabupaten Bekasi segera menerbitkan surat perizinan agar konstruksi bisa berlanjut tanpa hambatan.
“Kami mendukung penuh pembangunan hunian bagi masyarakat, termasuk rusun subsidi, karena kebutuhan rumah di Kabupaten Bekasi terus meningkat,” tegas Asep Surya Atmaja.
Dengan target 141.000 unit hunian, proyek rusun subsidi Meikarta ini menjadi salah satu program perumahan terbesar pemerintah saat ini. Kehadirannya diharapkan menjadi solusi nyata bagi jutaan pekerja industri yang selama ini kesulitan mengakses hunian terjangkau di dekat pusat aktivitas ekonomi. Proyek ini melengkapi berbagai insentif fiskal seperti pembebasan PBB-P2 100 persen untuk hunian MBR yang sudah diberlakukan pemerintah, serta upaya pengembang besar seperti proyek rusun subsidi KAI-BTN di kawasan Manggarai yang menambah pasokan hunian vertikal di ibu kota.













