Today

Dolar AS Melonjak, Pengembang Perumahan Subsidi Siap-siap Hadapi Kenaikan Biaya Konstruksi

Dampak kenaikan dolar AS terhadap sektor perumahan Indonesia

Jakarta — Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai mengancam stabilitas sektor perumahan Indonesia. Pengembang perumahan memperingatkan bahwa dampak kenaikan dolar AS bakal terasa signifikan dalam tiga hingga enam bulan mendatang, terutama pada segmen rumah bersubsidi.

Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Joko Suranto mengungkapkan, tekanan dari pelemahan rupiah paling keras dirasakan di industri manufaktur padat karya yang bergantung pada pinjaman berdenominasi dolar AS atau bahan baku impor. Kondisi ini secara langsung berdampak ke rantai pasok bahan bangunan yang menjadi tulang punggung industri properti nasional.

Rumah Subsidi Paling Rentan Terdampak

Joko menegaskan, segmen perumahan rakyat dan rumah bersubsidi menjadi yang paling rawan terhadap fluktuasi nilai tukar. Sebaliknya, kelas atas dan rumah mewah relatif tahan karena memiliki daya dukung finansial yang lebih kuat.

“Kalau komersil bisa berdampak, kalau yang tidak terdampak itu adalah mereka yang di level atas ya, rumah mewah ya. Yang tidak terdampak itu adalah level paling atas, karena mereka punya pilihan, punya daya dukung tinggi. Sedangkan kelas menengah kan tidak punya pilihan,” ujar Joko.

Kontraktor Mulai Rasakan Tekanan Harga Material

Ketua Umum Aliansi Pengembang Perumahan Nasional (Appernas) Andriliwan Muhammad mengonfirmasi bahwa kontraktor dan pengusaha bahan bangunan sudah merasakan dampak kenaikan harga. Namun, ia menilai tekanan tersebut masih belum mencapai tingkat kritis karena stok bahan bangunan di gudang masih cukup melimpah.

“Oh udah terasa. Sudah terasa kenaikan bahan-bahan bangunan. Tapi itu masih sebagian ya, belum terasa banget lah,” kata Andre.

Ia memperingatkan, seperti yang juga disampaikan para kontraktor yang mewaspadai dampak pelemahan rupiah, jika pemerintah tidak segera mengambil langkah antisipatif, dampak kenaikan dolar AS bisa meluas dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Kenaikan harga material diperkirakan akan lebih tajam dari perkiraan semula.

Semangat Program 3 Juta Rumah Tetap Membara

Meski ancaman kenaikan biaya konstruksi mengintai, Appernas menegaskan komitmen untuk mendukung program pemerintah membangun tiga juta rumah. Tenor kredit pemilikan rumah (KPR) hingga 40 tahun dinilai menjadi instrumen strategis untuk menjaga daya beli masyarakat.

“Tapi bagi kami, dengan kenaikan dolar itu tidak akan mempengaruhi semangat kami untuk mendukung program 3 juta rumah. Apalagi dengan adanya tenor 40 tahun. Kami berupaya untuk memenuhi program pemerintah tersebut,” ujarnya.

Situasi ini menegaskan bahwa pelemahan rupiah bukan sekadar masalah nilai tukar semata. Kondisi ini berbanding terbalik dengan stabilitas harga material bangunan pada Juni 2026 yang sempat memberikan optimisme. Bagi jutaan masyarakat kelas menengah ke bawah yang bercita-cita memiliki rumah, kenaikan dolar AS bisa menjadi penghalang nyata yang memperpanjang mimpi kepemilikan hunian.

Related Post

Leave a Comment