Jakarta — Dolar AS yang terus merangkak naik memberikan tekanan nyata bagi industri konstruksi perumahan Indonesia. Bahan bangunan impor mulai dari besi hingga semen kini membutuhkan biaya lebih besar, bahkan harga beberapa komoditas sudah mulai meroket sejak awal Juni, memaksa pengembang memutar otak agar proyek tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas.
Bahan Bangunan Impor Jadi Biang Keladi
Ketua Umum Aliansi Pengembang Perumahan Nasional (Appernas) Andriliwan Muhammad membenarkan bahwa kenaikan harga dolar sudah mulai terasa di lapangan. Kenaikan biaya material tidak bisa dihindari, terutama untuk komponen yang mengandung komposisi impor cukup tinggi.
“Oh udah terasa. Sudah terasa kenaikan bahan-bahan bangunan. Tapi itu masih sebagian ya, belum terasa banget lah,” ungkap Andre.
Meski demikian, Andre meyakini dampaknya belum signifikan karena stok material di gudang pengembang masih mencukupi. Persediaan yang ada setidaknya bisa menahan lonjakan harga selama beberapa bulan ke depan.
Dampak Bakal Lebih Dalam dalam 2-3 Bulan
Andre memperingatkan bahwa jika pemerintah tidak segera mengantisipasi kenaikan dolar dalam tiga bulan ke depan, dampaknya bisa jauh lebih besar. Biaya konstruksi yang membengkak akan memaksa pengembang menaikkan harga jual rumah, mirip dengan situasi ketika biaya konstruksi rumah melonjak 15 persen sebelumnya, termasuk di segmen subsidi.
“Saat ini dampaknya belum signifikan. Karena kenapa? Persediaan bahan-bahan di kami itu masih banyak, apalagi kami akan bangun 1.000 rumah gitu kan. Mungkin ini akan berdampak serius dalam 2-3 bulan akan datang. Kenaikannya bisa lebih tinggi,” jelas Andre.
Segmen Subsidi Paling Rentan
Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Joko Suranto sebelumnya juga menyampaikan hal senada. Dampak dari pelemahan rupiah paling terasa di segmen perumahan rakyat, termasuk rumah bersubsidi. Sementara segmen mewah dinilai masih cukup tahan karena daya beli pembelinya lebih kuat.
“Kalau komersil bisa berdampak, kalau yang tidak terdampak itu adalah mereka yang di level atas ya, rumah mewah ya. Yang tidak terdampak itu adalah level paling atas, karena mereka punya pilihan, punya daya dukung tinggi. Sedangkan kelas menengah kan tidak punya pilihan,” terang Joko.
Industri manufaktur padat karya yang memiliki pinjaman dalam dolar AS atau bahan bakunya dari luar negeri menjadi sektor paling terdampak. Tekanan ini berimbas langsung ke industri perumahan dan seluruh pendukungnya, termasuk bahan bangunan.
Semangat Program 3 Juta Rumah Tetap Menyala
Meski menghadapi tekanan biaya yang cukup berat, Andre menegaskan komitmen pengembang untuk tetap mendukung program pemerintah membangun 3 juta rumah. Apalagi adanya opsi tenor KPR 40 tahun dinilai bisa menjadi penopang daya beli masyarakat.
“Tapi bagi kami, dengan kenaikan dolar itu tidak akan mempengaruhi semangat kami untuk mendukung program 3 juta rumah. Apalagi dengan adanya tenor 40 tahun. Kami berupaya untuk memenuhi program pemerintah tersebut,” ujarnya.
Situasi ini menuntut kebijakan strategis dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga material bangunan. Tanpa intervensi yang tepat waktu, seperti yang sempat diprediksi ketika rupiah anjlok ke rekor terendah Rp17.940, risiko tertundanya proyek perumahan rakyat, risiko tertundanya proyek perumahan rakyat bisa semakin besar dalam beberapa bulan mendatang.













