Today

Emas Antam Terus Melorot, Properti Masih Jadi Pilihan Investasi Paling Cerdas di 2026

Emas Antam batangan logam mulia investasi

Jakarta — Harga emas Antam batangan kembali terkoreksi pada Kamis (4/6/2026). Logam mulia favorit masyarakat Indonesia itu merosot Rp15.000 per gram menjadi Rp2.759.000. Penurunan ini memperpanjang tren negatif emas sejak pekan lalu, memaksa calon investor meninjau ulang portofolio mereka.

Situasi ini muncul di tengah tekanan ganda. Dolar AS masih bergerak kokoh di kisaran Rp17.900–Rp18.000, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus tertekan. Banyak kalangan menilai emas bukan lagi satu-satunya instrumen lindung nilai yang andal.

Emas Turun, Apa Penyebabnya?

Pelemahan harga emas Antam kali ini dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik. Di tingkat internasional, kebijakan suku bunga The Fed yang masih ekspansif menekan permintaan terhadap logam mulia berimbal hasil nol itu. Sementara di dalam negeri, melemahnya rupiah terhadap dolar membuat harga emas berbasis dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli lokal.

Data dari Bursa Komoditas menunjukkan harga emas spot global bergerak di sekitar US$3.200 per ounce. Angka ini masih jauh dari rekor tertinggi US$5.111 yang sempat disentuh pada awal 2026, namun tetap memberikan tekanan signifikan terhadap daya beli masyarakat Indonesia.

Properti Tetap Jadi Pilihan Utama

Di tengah volatilitas pasar keuangan, sejumlah analis menegaskan bahwa properti residensial tetap menjadi instrumen investasi paling stabil. Berbeda dengan emas yang harganya bisa berfluktuasi harian, nilai properti cenderung naik secara konsisten dari tahun ke tahun.

CEO Metropolitan Land baru-baru ini menyatakan bahwa investasi rumah jauh lebih menguntungkan dibanding emas dalam jangka panjang. Perhitungannya sederhana: rumah tidak hanya memberikan capital gain, tetapi juga menghasilkan passive income melalui penyewaan.

Bahkan di tengah tekanan dolar yang membuat harga material bangunan melonjak, pengembang properti bersikap optimistis. Menteri PUPR memastikan bahwa proyek perumahan nasional tetap berjalan meski rupiah melemah dan BBM sempat naik.

Bagaimana Strategi Calon Pembeli Rumah?

Bagi mereka yang sedang menimbang antara membeli emas atau mengambil KPR, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Pertama, suku bunga acuan Bank Indonesia saat ini berada di level 5,25%. Kenaikan ini berpotensi meningkatkan cicilan KPR floating, namun beberapa bank besar seperti BTN dan BRI masih menawarkan program KPR bersubsidi dengan bunga kompetitif.

Kedua, harga material bangunan memang terpengaruh pelemahan rupiah. Semen, besi, dan triplek impor mengalami kenaikan 5–10% sejak kuartal pertama 2026. Namun, pengembang lokal mulai beralih ke material domestik untuk menekan biaya.

Ketiga, program FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) masih berjalan. BP Tapera mewajibkan bank menyisihkan 15% kuota untuk pekerja informal, membuka peluang lebih luas bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Emas vs Properti: Perbandingan Jangka Panjang

Data historis menunjukkan bahwa properti di kawasan strategis Jakarta Selatan dan Tangerang Selatan mengalami kenaikan nilai rata-rata 8–12% per tahun. Sementara emas, meski sempat meroket di awal 2026, kini justru mengalami koreksi tajam.

Bagi generasi milenial yang gajinya tertekan inflasi, kepemilikan rumah melalui skema KPR tetap menjadi jalan paling realistis. Dengan tenor cicilan hingga 30 tahun yang ditawarkan BTN untuk ASN, beban bulanan bisa ditekan hingga di bawah 30% dari penghasilan.

Emas mungkin memberikan keuntungan cepat dalam jangka pendek, namun properti tetap menjadi fondasi kekayaan yang paling kokoh di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Related Post

Leave a Comment