Jakarta — Rupiah menembus level psikologis baru setelah ditutup melemah 0,45% ke posisi Rp18.020 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Level ini menjadi yang terburuk sepanjang sejarah mata uang Garuda.
Tekanan terhadap rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan. Rupiah dibuka melemah 0,11% di level Rp17.960 per dolar. Namun, hanya beberapa menit setelah pembukaan, mata uang Garuda langsung ambruk menembus Rp18.000 per dolar dan bertahan di atas level tersebut hingga penutupan perdagangan. Ancaman terhadap harga rumah subsidi sudah mulai dirasakan pengembang.
Pemerintah Siaga Intervensi Rp8 Triliun
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah telah mengucurkan dana lebih dari Rp8 triliun untuk stabilisasi pasar obligasi. Langkah ini dilakukan untuk membantu Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Mungkin Rp8 triliun lebih, yang di obligasi ya,” kata Purbaya di kawasan Gedung DPR, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Strategi yang diterapkan pemerintah adalah membeli kembali atau buyback Surat Utang Negara yang dilepas investor asing. Dengan cara ini, pemerintah berupaya menjaga stabilitas imbal hasil Surat Berharga Negara di pasar obligasi. Menkeu Purbaya memastikan utang pemerintah tetap terkendali meski rupiah tertekan.
“Enggak apa-apa biar anda tahu saya intervensi sedikit. Terus 10 tahun relatif stabil,” ujar Purbaya.
Faktor Eksternal dan Domestik Membayangi
Bank Indonesia menjelaskan pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh faktor eksternal dan domestik. Tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi.
“Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging,” kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti.
“Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN,” tambahnya.
Dampak terhadap Sektor Properti
Pelemahan rupiah yang terus berlanjut berpotensi mengerek harga bahan bangunan impor. Material seperti besi, semen, dan kaca yang bergantung pada pasokan luar negeri akan mengalami kenaikan harga jual. Biaya bangun rumah terancam melonjak tajam dalam waktu dekat.
Pengembang properti nasional perlu bersiap menghadapi tantangan biaya konstruksi yang melonjak. Calon pembeli rumah pun harus mempertimbangkan strategi pembelian di tengah gejolak nilai tukar ini.
BI memastikan akan meningkatkan intervensi untuk menahan pelemahan nilai tukar rupiah. Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder.













