Jakarta — Pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan sejumlah mata uang asing lainnya ternyata tidak selalu membawa kabar buruk. Di balik tekanan nilai tukar, sektor pariwisata Indonesia justru melihat peluang emas untuk mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara, terutama dari kawasan ASEAN.
Sekretaris Jenderal Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menjelaskan bahwa daya beli wisatawan asing meningkat signifikan saat rupiah tertekan. Mata uang negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia menjadi jauh lebih berdaya beli di Indonesia, sehingga pengeluaran selama berlibur pun otomatis lebih besar. Kondisi ini sejalan dengan tren pelemahan rupiah yang sudah berlangsung beberapa pekan terakhir, di mana Bank Indonesia menyiapkan langkah antisipasi terhadap kenaikan suku bunga.
Wisatawan ASEAN Diminati Jadi Target Utama
Maulana menilai negara-negara terdekat seperti Singapura, Malaysia, dan anggota ASEAN lainnya berpotensi menjadi sumber kunjungan terbesar. Alasannya sederhana — jarak yang dekat membuat biaya perjalanan lebih rendah, sementara nilai tukar yang menguntungkan membuat mereka bisa menikmati liburan dengan budget lebih longgar.
“Dari sisi spending tentu menguntungkan. Mereka memegang mata uang yang lebih kuat sehingga pengeluaran mereka di Indonesia menjadi lebih besar dibanding sebelumnya,” ujar Maulana kepada CNBC Indonesia, Selasa (2/6/2026).
Tren Perjalanan Jarak Dekat Makin Diminati
Faktor lain yang mendukung tren ini adalah meningkatnya biaya perjalanan jarak jauh. Penerbangan lintas benua kembali mahal pasca pandemi, sehingga wisatawan cenderung memilih destinasi yang lebih dekat dari negara asal mereka. Indonesia, dengan keindahan alam dan biaya hidup yang kompetitif, berada di posisi strategis untuk menangkap peluang ini.
Maulana menambahkan bahwa meskipun potensi kenaikan okupansi hotel terbuka lebar, masih ada tantangan di lapangan. Akomodasi tidak resmi atau yang kerap disebut sebagai “akomodasi liar” masih menjadi isu di sejumlah daerah tujuan wisata. Wisatawan yang datang belum tentu seluruhnya menginap di hotel formal, sehingga manfaat ekonomi bisa terpecah ke sektor yang tidak termonitor. Hal ini juga mengingatkan pada dampak pelemahan rupiah yang lebih luas, di mana pengembang perumahan harus bersiap menghadapi dampak besar dari meroketnya dolar.
Dampak Terhadap Pasar Properti dan Investasi
Gelombang kunjungan wisatawan asing yang meningkat juga berpotensi menggerakkan sektor properti, khususnya di kawasan wisata seperti Bali, Lombok, dan Batam. Kebutuhan akan akomodasi yang memadai — mulai dari hotel berbintang hingga villa dan apartemen — bisa menjadi pendorong baru bagi pengembang properti di daerah-daerah tersebut.
Bagi investor properti, kondisi ini membuka peluang menarik. Harga properti di kawasan wisata potensial masih relatif terjangkau dibandingkan negara tetangga seperti Thailand atau Malaysia, sementara demand dari wisatawan asing terus menunjukkan tren positif. Tak heran jika beberapa pengembang mulai mengalihkan strategi ke hunian vertikal di kawasan transit oriented development untuk menangkap potensi ini.
Kendati demikian, pemerintah dan pelaku industri perlu memastikan bahwa infrastruktur pendukung pariwisata — termasuk ketersediaan hunian yang layak dan terjangkau — terus diperkuat agar manfaat pelemahan rupiah bisa dirasakan secara merata di seluruh lapisan ekonomi.













