Today

PLN Ubah 1.300 Gedung Jadi Smart Building, PLTS Atap dan IoT Smart AC Jadi Senjata Utama

PLN Smart and Green Building program dengan PLTS Atap dan IoT Smart AC

Jakarta — PT PLN (Persero) mengubah paradigma pengelolaan gedung perkantoran melalui program Smart & Green Building yang resmi diluncurkan di Kantor Pusat PLN pada Jumat (8/5). Program ini mengintegrasikan panel surya atap, sistem manajemen energi digital, hingga pendingin ruangan berbasis IoT untuk menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menjelaskan transformasi ini merupakan pergeseran fundamental dari model bisnis konvensional menuju platform energi digital yang lebih terintegrasi.

“Dulu, paradigma PLN adalah menjual listrik dan mengoptimalkan biaya. Sekarang PLN bertransformasi menjadi Energy Digital Platform yang mengorkestrasi ekosistem energi melalui kolaborasi dan value creation,” ujar Darmawan dalam keterangan resmi, Senin (11/5).

Gedung Trapesium Jadi Proyek Percontohan Pertama

Gedung Trapesium di kompleks Kantor Pusat PLN menjadi pilot project pertama program ini. Gedung tersebut dilengkapi PLTS Atap berkapasitas 89,28 kilowatt peak (kWp) yang terhubung langsung dengan Energy Management System sebagai pusat kendali digital.

Sistem ini memungkinkan pemantauan konsumsi energi secara real time, termasuk pengaturan pencahayaan, pendingin ruangan, dan beban listrik lainnya melalui satu panel kontrol terpusat. Setiap unit IoT Smart AC yang terpasang dapat mengirim data konsumsi energi ke sistem pusat untuk analisis dan optimasi.

Ke depan, gedung dan rumah tidak lagi hanya memakai energi, tetapi juga mampu memproduksi dan mengelolanya sendiri. Darmawan menegaskan PLN harus siap menghadapi ekosistem energi yang semakin digital dan dua arah.

Target Besar: 400 Gedung dan 12 MWp PLTS Atap

Pada tahap awal 2026, PLN mengimplementasikan program ini di 10 gedung pertama dengan target pemasangan PLTS Atap berkapasitas 1.100 kWp dan 471 unit IoT Smart AC. Jumlah ini baru sebagian kecil dari total 1.300 gedung yang dikelola PLN di seluruh Indonesia.

Executive Vice President Umum dan Aset Properti PLN, Khairullah, menjelaskan pemetaan awal mengidentifikasi sekitar 400 gedung yang memenuhi syarat untuk dipasangi PLTS Atap. Dalam roadmap 2026-2035, PLN menargetkan kapasitas terpasang mencapai 12 megawatt peak (MWp) dengan 7.251 unit IoT Smart AC.

“Dalam roadmap 2026-2035, PLN menargetkan kontribusi pengurangan emisi karbon hingga 0,3 juta ton CO2 equivalent,” tutup Khairullah.

Bukan Sekadar Biaya, Tapi Investasi Masa Depan

Komisaris Independen PLN, Andi Arief, menekankan pentingnya langkah ini sebagai etalase efisiensi energi bagi perusahaan penjual energi terbesar di Indonesia. Menurutnya, tidak elok jika PLN bicara transisi energi kepada pelanggan sementara kantornya sendiri masih boros.

Program ini dijalankan melalui sinergi PLN Group, di mana PLN Icon Plus bersama Dana Pensiun PLN berperan sebagai building management provider dengan skema managed service. Pendekatan ini memungkinkan PLN menerapkan teknologi smart building tanpa harus mengeluarkan investasi modal yang terlalu besar di awal.

Prinsip keberlanjutan atau sustainability menjadi bagian integral dari strategi perusahaan, sejalan dengan minat konsumen Indonesia terhadap hunian ramah lingkungan yang terus meningkat. Andi menegaskan bahwa sustainability bukan sekadar biaya tambahan, melainkan bagian dari efisiensi dan investasi masa depan perusahaan.

Langkah PLN ini sejalan dengan tren global di mana sektor korporat mulai mengadopsi green building untuk memenuhi komitmen net zero emission. Di Indonesia, adopsi smart building masih terbilang baru, namun potensi penghematan energi hingga 30-40% menjadi daya tarik utama bagi perusahaan yang ingin menekan biaya operasional jangka panjang.

Related Post

Leave a Comment