Jakarta — Indonesia mencatatkan pencapaian bersejarah dalam transisi energi domestik. Kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di Tanah Air kini resmi menembus 1,3 GigaWatt (GW), sebuah angka yang mengukuhkan posisi negara ini sebagai salah satu pelaku aktif energi terbarukan di kawasan ASEAN.
Kolaborasi Tiga Pilar Utama
Pencapaian ini bukan hasil kerja satu pihak. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PT PLN (Persero), dan Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) bahu-membahu membangun fondasi yang kuat bagi akselerasi energi surya nasional. Sinergi lintas sektor ini terbukti mampu mengubah potensi menjadi kenyataan yang nyata terasa di masyarakat.
“Energi surya bukan lagi potensi, tetapi sudah menjadi kebutuhan strategis nasional,” tegas Ketua Umum AESI Mada Ayu Habsari dalam acara Launching 1 GW PLTS Atap Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (21/4/2026). Capaian ini sejalan dengan langkah PLN yang sebelumnya telah mengubah 1.300 gedung menjadi smart building dengan PLTS atap dan IoT.
Ekosistem yang Semakin Matang
AESI kini menghimpun sekitar 135 anggota yang mewakili berbagai elemen ekosistem energi surya. Mulai dari manufaktur, pengembang proyek, penyedia teknologi, lembaga keuangan, hingga lembaga sertifikasi — seluruh rantai nilai sudah terbangun. Kehadiran ekosistem yang lengkap menjadi modal strategis untuk mempercepat skala pengembangan industri surya nasional.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi membeberkan ambisi lebih besar. Pengembangan PLTS nasional ditargetkan mencapai 100 GW, dan target ini tidak sekadar soal kapasitas energi semata.
760 Ribu Lapangan Kerja Baru
“Kami menghitung setidaknya ada 760 ribu pekerjaan baru yang bisa tercipta dari program PLTS ini. Ke depan, pemerintah ingin memperluas penggunaan fotovoltaik tidak hanya di atap bangunan (rooftop), tetapi juga di area ground-mounted terutama di sekitar koperasi desa, fasilitas kesehatan seperti Puskesmas, serta akselerasi kendaraan listrik,” ujar Eniya.
Program PLTS Atap ini membuka peluang ekonomi yang masif. Dari sisi lapangan kerja hingga penghematan biaya energi rumah tangga, dampaknya akan terasa secara luas di berbagai lapisan masyarakat. Hal ini juga sejalan dengan tren AI yang merambah rumah tangga dan membuat perangkat elektronik semakin pintar.
PLN Permudah Akses Masyarakat
Direktur Retail dan Niaga PT PLN (Persero) Adi Priyanto menegaskan komitmen perusahaan pelat merah ini dalam mendukung arah kebijakan nasional. Capaian 1,3 GW menjadi langkah penting dalam mendorong pemanfaatan energi surya di Indonesia.
PLN juga menghadirkan fitur perizinan PLTS Atap melalui aplikasi PLN Mobile yang semakin user-friendly. Melalui fitur ini, pelanggan dapat mengajukan permohonan, memantau proses secara transparan, serta merasakan layanan yang lebih cepat dan mudah.
Fondasi Menuju Target 100 GW
Capaian 1,3 GW ini menjadi fondasi awal menuju ambisi Indonesia dalam mengembangkan energi surya hingga 100 GW dalam beberapa tahun ke depan. Kolaborasi dalam pengembangan PLTS Atap diharapkan semakin luas dan dapat mempercepat pemanfaatan energi surya di berbagai sektor, termasuk hunian residensial. Tren ini juga mendukung perkembangan desain rumah pintar modern yang semakin mengintegrasikan teknologi hijau.
Dengan dukungan berbagai pihak, Indonesia memiliki peluang besar untuk mencapai target pengembangan energi surya nasional sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam transisi energi di kawasan ASEAN.











