Today

Media-Media Singapura Sorot Pelemahan Rupiah, Sebut Faktor Penyebab Utama

Pengunjung menukar uang di money changer Ayu Masagung Jakarta saat rupiah melemah

Jakarta — Media-media besar Singapura memilih tajam menyoroti pelemahan rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS. Channel News Asia (CNA) dan The Straits Times sama-sama mengangkat krisis nilai tukar Indonesia menjadi berita utama internasional.

CNA mengutip laporan AFP yang menyoroti bagaimana rupiah mencapai 18.028 terhadap greenback meskipun bank sentral sudah berusaha memberikan dukungan. Sementara The Straits Times merujuk data Bloomberg untuk menggambarkan besarnya tekanan yang menghantam mata uang Garuda.

Kinerja Terburuk di Asia Tahun 2026

Rupiah telah jatuh lebih dari 7% sepanjang tahun ini. Bloomberg News mencatatkan Indonesia sebagai negara dengan mata uang berkinerja terburuk di kawasan Asia. Penyebab utamanya berpusat pada perang AS-Israel terhadap Iran yang mengguncang pasar energi global.

“Rupiah Indonesia mencapai level terlemahnya terhadap dolar AS pada Kamis (4 Juni), menembus ambang batas psikologis 18.000 di tengah kekhawatiran tentang perekonomian negara di tengah melonjaknya biaya energi,” tulis CNA.

Surplus Perdagangan Nyaris Ludes

Kondisi surplus perdagangan Indonesia memperparah tekanan. Angka April 2026 terjun bebas menjadi hanya US$89 juta dari US$3,3 miliar bulan sebelumnya. Josua Pardede, ekonom lokal yang dikutip AFP, menjelaskan bahwa menyusutnya surplus ini semakin mengurangi pasokan dolar di pasar domestik.

Sebagai importir minyak bersih, Indonesia sangat rentan terhadap lonjakan harga minyak mentah. Pemerintah tengah berupaya keras mempertahankan harga bahan bakar bersubsidi, namun beban fiskal semakin berat.

Singapura Waspada terhadap Intervensi Bank Sentral

The Straits Times menggunakan judul “Rupiah falls through key psychological level, putting markets on guard for intervention”. Rupiah merosot 0,35% menjadi 18.029,5 per dolar AS. Terhadap dolar Singapura, rupiah juga mencatatkan rekor baru di 14.047,71 dengan penurunan 9,3% sejak awal tahun.

“Penembusan di bawah 18.000 dapat mempercepat arus keluar dana asing dari saham dan obligasi lokal, menjadikan level tersebut sebagai ujian penting bagi para pembuat kebijakan,” lanjut laporan tersebut.

Sentimen Investor Memburuk Tajam

Sentimen terhadap aset Indonesia mengalami erosi signifikan di 2026. MSCI memperingatkan potensi reklasifikasi Indonesia dari pasar berkembang. Fitch Ratings dan Moody’s juga merevisi prospek kedaulatan negara ke arah yang lebih waspada.

Kekhawatiran juga muncul atas rencana pemerintah mengontrol ekspor komoditas utama. Kombinasi faktor-faktor ini membuat investor asing semakin ragam menempatkan dana di pasar Indonesia.

Pelemahan rupiah berdampak luas ke berbagai sektor, termasuk stabilitas utang pemerintah yang terus dipantau Menkeu Purbaya. Tak hanya itu, IHSG yang anjlok 4% dan rupiah Rp18.000 turut menghantam sektor properti nasional. Di sisi lain, harga bahan bangunan juga terancam meroket akibat dolar yang terus mengamuk.

Related Post

Leave a Comment