Saturday, 30 May 2026

Harga Rumah Terus Merangkak Naik Usai Material Bangunan Melonjak 15 Persen, Apa Penyebabnya?

Rupiah melemah berdampak pada kenaikan harga material bangunan dan biaya konstruksi properti Indonesia

Jakarta — Pelemahan rupiah yang kembali mencetak rekor terendah sepanjang sejarah bukan sekadar soal angka di layar monitor bank. Bagi jutaan keluarga Indonesia yang berencana memiliki hunian sendiri, tekanan kurs ini sudah mulai terasa langsung di dompet. Biaya pembangunan rumah merangkak naik, material semakin mahal, dan pertanyaan besar muncul: setelah sudah naik Rp4 juta, akankah harga rumah terus melambung? Situasi ini mengingatkan pada pelemahan rupiah sebelumnya yang sudah mengguncang daya beli masyarakat.

Material Bangunan Melonjak, Pengembang Kecil Terjepit

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Deddy Indrasetiawan memaparkan data terkini yang mengkhawatirkan. Kenaikan harga material bangunan rata-rata sudah menyentuh 15 persen sejak awal tahun ini. Angka itu belum termasuk dampak kebijakan Gubernur Jawa Barat yang menghentikan aktivitas tambang, yang sudah lebih dulu menambah biaya Rp4 juta per unit rumah.

“Pada saat kebijakan Gubernur Jawa Barat terkait tambang disetop, kami kena kenaikan Rp4 juta per rumah. Sekarang dampak dari perang dan BBM, kenaikan material bangunan rata-rata 15 persen,” ujar Deddy kepada CNBC Indonesia.

Bukan cuma soal harga. Pola transaksi dengan supplier bahan bangunan juga berubah drastis. Beberapa pemasok kini mewajibkan pembayaran di muka sebelum barang dikirim. Material alam seperti pasir dan batu menjadi barang rebutan, sementara mebel dan keramik turut terdampak pelemahan rupiah karena keterkaitan dengan bahan baku impor. Pengembang sudah lebih dulu mengusul kenaikan harga rumah subsidi 10 persen akibat fluktuasi rupiah.

Rumah Subsidi Tipe 35/60 Paling Merasakan Dampaknya

Tekanan biaya ini paling keras dirasakan di segmen rumah subsidi tipe 35/60, yang selama ini menjadi andalan pengembang daerah dan target utama Program Sejuta Rumah pemerintah. Margin proyek yang sudah tipis kian tertekan, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Indeks Harga Properti Residensial yang melambat di awal 2026 jadi bukti nyata tekanan ini.

“Penjualan hampir sama seperti tahun lalu, belum ada peningkatan signifikan,” ungkap Deddy, menegaskan bahwa pasar properti residensial masih stagnan meski biaya pembangunan terus merangkak naik.

Situasi ini menciptakan paradoks yang membingungkan bagi calon pembeli. Di satu sisi, harga rumah sudah naik signifikan. Di sisi lain, stok rumah baru justru melambat karena pengembang enggan membangun di tengah ketidakpastian biaya.

Rupiah Rp17.500, Siapa yang Paling Terdampak?

Data Refinitiv mencatat mata uang Garuda ditutup melemah 0,49 persen ke posisi Rp17.490 per dolar AS pada perdagangan 12 Mei 2026. Sepanjang hari, rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah intraday di Rp17.525 per dolar AS. Sejumlah bank nasional mulai menjual dolar AS di kisaran Rp17.500 hingga mendekati Rp17.700.

Pelemahan ini sulit dipisahkan dari efek kenaikan BBM karena keduanya terjadi dalam waktu bersamaan. Kedua faktor itu secara bersamaan mendorong lonjakan biaya pembangunan, menciptakan tekanan ganda yang menghantam pengembang dari dua arah sekaligus.

“Ini nggak bisa kami pisahkan karena berbarengan dengan kenaikan BBM,” tegas Deddy.

Bagi masyarakat yang sedang berencana membeli rumah, situasi ini menuntut kehati-hatian ekstra. Memahami dinamika pasar material, mempertimbangkan waktu pembelian, serta menjalin komunikasi aktif dengan pengembang menjadi langkah krusial sebelum mengambil keputusan finansial jangka panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *