Jakarta — Generasi Z mulai bergerak masuk ke pasar properti Indonesia, namun bukan lewat jalur rumah baru. Mereka justru menjadikan rumah bekas atau second sebagai pintu masuk utama untuk memiliki hunian pertama.
Fenomena ini terungkap dari data pasar properti yang menunjukkan peningkatan signifikan permintaan rumah bekas di kalangan anak muda. Anggota Satgas Perumahan sekaligus Pengamat Properti, Panangian Simanungkalit, menyebut momentum ini sebagai peluang emas bagi Gen Z.
Rumah Second Jadi Solusi Harga Rumah Baru yang Meroket
Harga rumah baru terus melonjak setiap tahun, membuat semakin banyak generasi muda kesulitan membeli hunian. Fenomena serupa terlihat di kawasan menengah, di mana pembeli rumah Rp2-3 miliar di Banten banyak batal dan penjualan properti menengah anjlok hingga 25 persen.
“Properti saat ini on the track karena ada momentum rumah second ke pasar sekunder. Ini menjadi peluang besar khususnya bagi Gen Z untuk mulai masuk ke pasar properti dengan legalitas yang sudah jelas dan harga yang masih kompetitif,” ujar Panangian di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Rumah bekas umumnya berada di kawasan yang sudah berkembang dengan infrastruktur matang. Banyak di antaranya berlokasi premium dengan harga tanah yang masih mengacu pada nilai puluhan tahun lalu.
“Ibaratnya, kita beli tanahnya saja sudah untung,” kata Panangian.
Lelang Ribuan Aset Rumah Second Siap Meramaikan Pasar
Dalam waktu dekat, pasar properti Indonesia akan diramaikan pelepasan puluhan ribu aset rumah second melalui mekanisme lelang. Properti yang dipasarkan mencakup berbagai segmen mulai dari rumah subsidi, rumah komersial, apartemen, hingga kavling dengan harga bervariasi. Langkah ini sejalan dengan program BTN Lelang Akbar 2026 yang menawarkan 10.000 rumah second dengan diskon hingga 40 persen.
Kondisi ini bisa menjadi momentum bagi Gen Z yang ingin berinvestasi maupun memiliki rumah pertama. Panangian menilai sebagian besar aset sudah berada di kawasan yang hidup, infrastrukturnya terbentuk, dan harga tanah terus meningkat.
“Pasar rumah second ini menarik karena sebagian besar aset sudah berada di kawasan yang hidup, infrastrukturnya terbentuk, dan harga tanah terus meningkat. Dari sisi investasi maupun hunian, potensinya masih sangat besar,” ujarnya.
KPR untuk Rumah Bekas Buka Akses Kepemilikan Hunian
Pasar rumah second juga didukung skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) khusus bagi masyarakat yang ingin membeli rumah bekas dengan sistem cicilan. Dukungan pembiayaan ini memperkuat daya tarik pasar sekunder di tengah lesunya penjualan rumah baru.
Tantangan serupa juga dirasakan generasi muda di Eropa, di mana harga properti Eropa meroket dan generasi muda terjebak tak bisa beli rumah sendiri. Kondisi ini menegaskan bahwa tren kepemilikan rumah bekas bukan sekadar fenomena lokal, melainkan respons global terhadap harga hunian yang makin tak terjangkau.
Panangian optimistis penguatan pasar sekunder akan memberikan dampak positif terhadap industri properti nasional sekaligus memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat muda.
“Selama ini masyarakat terlalu fokus pada rumah baru, padahal rumah second juga memiliki value yang tinggi. Dengan edukasi yang tepat, pasar sekunder bisa menjadi salah satu motor baru pertumbuhan sektor properti nasional,” tutur Panangian.









