Jakarta — Mimpi memiliki rumah sendiri kian memudar di kalangan generasi muda. Survei terbaru dari Bankrate mengungkap fakta yang memilukan: satu dari enam calon pembeli rumah di Amerika Serikat memilih menyerah karena tak mampu menjangkau harga properti. Kondisi ini bukan sekadar masalah lokal, melainkan cerminan krisis perumahan global yang menghantam generasi milenial paling keras.
Survei Bankrate: 22 Persen Milenial Putus Asa
Bankrate merilis laporan berjudul Home Affordability Survey 2025 yang mencakup data lima tahun terakhir. Hasilnya mencengangkan. Sebanyak 16 persen responden mengaku sudah berhenti berusaha mencari rumah karena harga yang terus meroket sementara pasokan terbatas dan suku bunga KPR tetap tinggi.
Stephen Kates, analis keuangan di Bankrate, menjelaskan akar masalahnya. “Kombinasi buruk antara harga rumah yang tinggi, pasokan yang rendah, dan suku bunga KPR yang tinggi menyebabkan satu dari enam pembeli rumah selama lima tahun terakhir menyerah sepenuhnya,” ujar Kates dalam laporan resmi Bankrate.
Proporsi putus asa ini paling tinggi terjadi di kalangan milenial, mencapai 22 persen. Generasi X menyusul dengan 17 persen, diikuti Gen Z dan baby boomer yang masing-masing berada di angka 12 persen. Artinya, hampir seperempat generasi kelahiran 1981-1996 sudah menanggalkan mimpinya memiliki hunian sendiri.
Indonesia Masuk Enam Besar Negara Paling Tak Terjangkau
Bagaimana posisi Indonesia dalam peta krisis perumahan global? Laporan terbaru The Economist menempatkan Indonesia di urutan keenam negara dengan harga hunian paling tidak terjangkau di dunia. Peringkat ini menjadikan Indonesia satu peringkat di bawah Korea Selatan dan satu tingkat di atas China.
Daftar lengkap negara dengan hunian paling tak terjangkau menurut The Economist adalah sebagai berikut: Filipina menempati posisi puncak, diikuti Sri Lanka, Thailand, India, Korea Selatan, Indonesia, China, Amerika Serikat, dan Inggris Raya.
Masalah utamanya bukan sekadar harga mahal. Harga rumah naik jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan masyarakat. Pasokan rumah baru juga tidak pernah cukup untuk memenuhi permintaan yang terus membengkak. Ketimpangan inilah yang membuat impian memiliki rumah menjadi barang mewah bagi jutaan keluarga Indonesia.
Dampaknya Meluas ke Semua Generasi
Krisis perumahan tidak hanya memukul milenial. Generasi Z yang baru memasuki dunia kerja sudah menghadapi harga rumah yang tak masuk akal. Sementara generasi X yang seharusnya di masa produktif justru masih terjebak membayar cicilan rumah dengan bunga tinggi.
Di Indonesia, skenario serupa terjadi. Harga rumah subsidi pun terus melambung akibat kenaikan biaya konstruksi dan pelemahan rupiah. Biaya material bangunan yang bergantung pada impor turut menambah beban pengembang yang akhirnya mengalihkan biaya kepada pembeli.
Kebijakan pemerintah seperti PPN 0 persen dan KPR tenor panjang memang memberi sedikit napas lega. Namun apakah solusi jangka pendek ini cukup untuk meredam keputusasaan generasi muda yang sudah lama menunggu waktu yang tepat untuk membeli rumah pertama mereka?












