Jakarta — Nilai tukar rupiah menembus batas psikologis Rp18.000 per dolar AS pada Kamis (4/6) pagi, menandai pelemahan paling tajam dalam beberapa pekan terakhir. Posisi ini jauh lebih buruk dibandingkan Rp17.940 yang sempat menjadi rekor terendah sebelumnya.
Pelemahan rupiah ini langsung mengirim sinyal bahaya bagi sektor perumahan nasional. Dampak dolar yang meroket terhadap sektor perumahan sudah dirasakan pengembang, dan situasi kini semakin memburuk. Biaya material bangunan yang selama ini bergantung pada impor kini terancam melonjak signifikan, mengancam target pembangunan jutaan rumah subsidi yang tengah digenjot pemerintah.
Apa yang Menyebabkan Rupiah Jebol Level Rp18.000?
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengidentifikasi konflik di Timur Tengah sebagai pemicu utama. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda, bahkan kedua belah pihak saling serang yang mendorong kenaikan harga minyak mentah global.
“Penggerak utama pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih soal konflik AS dan Iran. Kabar terbaru, AS dan Iran masing-masing belum sepakat damai, bahkan saling serang yang mendorong kenaikan harga minyak mentah,” kata Ariston Tjendra, pengamat mata uang.
Dampak Langsung ke Biaya Bangun Rumah
Dengan rupiah di posisi Rp18.001 per dolar AS pada pukul 06.20 WIB, pelemahan mencapai 0,43 persen atau 76,3 poin dari hari sebelumnya. Dalam 24 jam terakhir, rupiah bahkan sempat menyentuh Rp18.013 per dolar AS.
Kondisi ini menjadi pukulan telak bagi pengembang perumahan yang sudah berjuang menghadapi kenaikan harga semen dan besi. Material impor seperti cat, keramik, hingga peralatan elektrik untuk rumah pintar kini harus dibeli dengan kurs yang jauh lebih mahal. Calon pembeli perlu memahami strategi menghadapi kenaikan biaya konstruksi ini.
Pernyataan Menkeu soal Kondisi Fiskal
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan yang menyebut pelemahan rupiah disebabkan kebijakan fiskal pemerintah yang ugal-ugalan. Ia menilai kondisi fiskal Indonesia saat ini justru lebih baik dibandingkan tahun lalu, terutama dari sisi penerimaan pajak.
“Banyak yang bilang (rupiah melemah) gara-gara (kebijakan) fiskalnya berantakan. Kalau ada isu pemerintah kebijakannya ngawur, fiskalnya ugal-ugalan, enggak begitu,” ujar Purbaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6).
Proyek Perumahan Nasional Terancam Tertunda
Target pemerintah membangun jutaan unit rumah subsidi tahun ini berpotensi terhambat. Pengembang kecil dan menengah yang selama ini menjadi tulang punggung pasokan rumah terjangkau paling rentan terkena dampak.
Kenaikan biaya konstruksi akan berakhir pada dua pilihan sulit: menaikkan harga jual rumah atau mengurangi kualitas material. Keduanya sama-sama merugikan masyarakat berpenghasilan rendah yang menjadi target program perumahan nasional.
Situasi ini menambah daftar tantangan bagi generasi milenial dan Gen Z yang sudah lama berjuang memiliki rumah impian. Kebijakan BI yang makin agresif untuk menahan rupiah juga berdampak pada suku bunga KPR. Dengan gaji yang stagnan dan harga properti yang terus merangkak naik, mimpi memiliki hunian sendiri kian jauh dari jangkauan.













