Today

Siap-siap BI Makin Galak, Rupiah Tertekan dan Harga Kebutuhan Melambung

Gubernur BI Perry Warjiyo saat pertemuan tahunan Bank Indonesia

Jakarta — Bank Indonesia terancam menaikkan suku bunga acuan lagi sepanjang 2026. Tekanan rupiah yang makin dalam dan inflasi yang merangkak naik memaksa kebijakan moneter tetap ketat untuk waktu yang lebih lama dari perkiraan semula.

Ekonom BCA Victor George Petrus Matindas dan Samuel Theophilus Artha memproyeksikan kenaikan suku bunga tambahan sebesar 50 basis poin sepanjang tahun ini. Prediksi itu muncul setelah inflasi Mei 2026 tercatat 3,08% secara tahunan, naik tajam dari 2,42% pada April.

Rupiah Tembus Rp17.900, Target Berikutnya Rp18.000

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS sudah menembus level psikologis baru di Rp17.900 per dolar AS. Level ini menjadi rekor terendah sepanjang masa bagi mata uang Garuda terhadap greenback.

Sejak awal tahun, rupiah terdepresiasi sekitar 6,5%. Pelemahan ini berpotensi meningkatkan biaya input produksi secara signifikan, memaksa produsen menaikkan harga jual untuk mempertahankan margin keuntungan.

Imbal hasil SRBI tenor 12 bulan sudah mencapai 6,92% pada lelang terakhir. Angka ini jauh di atas suku bunga acuan 5,25%, menunjukkan Bank Indonesia sudah sangat agresif dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Inflasi Energi Jadi Pemicu Utama

Guncangan harga energi menjadi pendorong utama inflasi bulanan Mei 2026. Harga yang diatur pemerintah mencatat kenaikan paling tajam sebesar 0,52% secara bulanan, dipicu kenaikan tarif penerbangan dan harga energi nonsubsidi.

Kontribusi tidak langsung sektor logistik jauh lebih besar dari kontribusi langsung transportasi terhadap indeks harga konsumen. Indonesia sebagai negara kepulauan membuat dampak kenaikan harga energi merambat ke seluruh sektor ekonomi.

Lonjakan harga bahan pangan tertentu dan emas turut memperparah tekanan inflasi. Komponen-komponen ini memang dikenal mengalami fluktuasi harga yang tinggi dari waktu ke waktu.

Bank Permata: Skenario Dasar Tahan di 5,25%

Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank Faisal Rachman menilai kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin terjadi. Namun, skenario dasar tetap memperkirakan BI mempertahankan suku bunga di 5,25%.

Kenaikan 50 basis poin yang sudah dilakukan sebelumnya dipandang sebagai langkah antisipatif dan berorientasi ke depan. Tujuannya menjaga stabilitas makroekonomi serta nilai tukar sepanjang 2026.

Dengan asumsi pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi, inflasi tahunan diperkirakan mencapai sekitar 2,72% pada akhir tahun. Namun, berbagai risiko yang ada bisa memperbesar kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Dampak ke Sektor Properti dan KPR

Suku bunga acuan yang terus naik langsung mempengaruhi suku bunga KPR mengambang atau floating rate. Pemilik KPR dengan skema bunga mengambang harus bersiap menghadapi kenaikan cicilan bulanan.

Biaya konstruksi juga berpotensi membengkak seiring depresiasi rupiah yang meningkatkan harga material bangunan impor. Situasi ini menambah tekanan bagi pengembang perumahan yang sudah berjuang menjaga harga jual tetap terjangkau.

Pemerintah perlu mencari langkah strategis agar program perumahan nasional tidak terhambat oleh kondisi moneter yang semakin ketat. Kebijakan fiskal yang tepat bisa menjadi penyeimbang bagi tekanan moneter yang terus berlanjut.

Related Post

Leave a Comment