Dampak Rupiah Rp17.500: Biaya Bangun Rumah Subsidi Merangkak Naik 15 Persen
Jun. 1, 2026
Pelemahan rupiah hingga Rp17.500 per dolar AS mendorong biaya konstruksi rumah subsidi naik 15%. Pengembang mengaku tertekan, penjualan masih stagnan.
Today
Jun. 1, 2026
Pelemahan rupiah hingga Rp17.500 per dolar AS mendorong biaya konstruksi rumah subsidi naik 15%. Pengembang mengaku tertekan, penjualan masih stagnan.
May. 31, 2026
Pelemahan rupiah mendorong pengembang properti beralih membangun hunian vertikal di kawasan TOD untuk menjaga harga tetap terjangkau bagi konsumen.
May. 31, 2026
Pelemahan rupiah ke level Rp17.500 per dolar AS memunculkan kekhawatiran terhadap sektor properti nasional. Namun, mayoritas pengembang ternyata tidak bergantung pada utang dolar AS.
May. 31, 2026
Kenaikan suku bunga BI sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen berdampak signifikan pada sektor properti dan konstruksi. APINDO menyebut industri yang bergantung pada pembiayaan bank menjadi paling rentan menghadapi tekanan ini.
May. 31, 2026
Rupiah tembus Rp17.500/USD, biaya rumah naik Rp4 juta per unit. Material bangunan meroket 15%, supplier minta bayar di muka. Penjualan stagnan, daya beli belum pulih.
May. 31, 2026
Pengembang mengusulkan kenaikan harga rumah subsidi minimal 10% akibat pembengkakan biaya konstruksi mencapai 20% di tengah gejolak rupiah dan inflasi logistik.
May. 31, 2026
Pelemahan rupiah membuat biaya konstruksi rumah subsidi melonjak hingga 15 persen. Pengembang mengaku tertekan karena supplier kini meminta pembayaran di muka.
May. 30, 2026
Rupiah menjadi mata uang terlemah di Asia dengan pelemahan hampir 1% dalam sepekan. BI Rate naik ke 5,25% belum mampu menahan tekanan. Dampak langsung terasa pada biaya konstruksi dan harga properti.
May. 30, 2026
Pelemahan rupiah hingga Rp17.500 dan kenaikan BBM membuat biaya material bangunan meroket 15%. Pengembang terjebak antara kenaikan biaya dan daya beli masyarakat yang belum pulih.
May. 30, 2026
Pelemahan rupiah memukul industri properti nasional. Harga material bangunan naik rata-rata 15 persen, pengembang rumah subsidi terhimpit margin. Supplier minta bayar di depan, penjualan masih stagnan.