Jakarta — Dolar Amerika Serikat terus menunjukkan penguatan yang agresif terhadap rupiah sepanjang Mei 2026, memaksa para pelaku industri properti mulai menghitung ulang biaya proyek mereka. Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Joko Suranto memperingatkan bahwa tekanan dari nilai tukar ini baru akan benar-benar terasa dalam tiga hingga enam bulan mendatang.
Peringatan REI soal Waktu Tenggang yang Semakin Sempit
“Yang jelas itu dampak negatif atas kondisi kita. Kalau pada batas tertentu, ya 3 sampai 6 bulan kan mungkin mereka masih bisa nahan. Tapi kalau setelah itu bakal menjadi sesuatu yang agak bahaya kan begitu,” ujar Joko Suranto dikutip pada Senin (1/6/2026).
Joko menjelaskan bahwa sektor perumahan rakyat dan rumah bersubsidi menjadi yang paling rentan terhadap fluktuasi nilai tukar. Sebagian besar bahan bangunan yang digunakan untuk proyek kelas menengah ke bawah masih bergantung pada impor dari luar negeri. Tantangan serupa juga dihadapi oleh program rumah subsidi yang tengah berjalan, di mana harga material yang meroket menjadi salah satu hambatan utama.
Rumah Subsidi di Garis Depan Dampak
Ketua Umum Aliansi Pengembang Perumahan Nasional (Appernas) Andriliwan Muhammad, atau akrab disapa Andre Bangsawan, membenarkan bahwa tekanan biaya sudah mulai dirasakan di lapangan. Kenaikan harga beberapa komoditas bahan bangunan mulai terjadi meski belum seluruhnya merata.
“Oh udah terasa. Sudah terasa kenaikan bahan-bahan bangunan. Tapi itu masih sebagian ya, belum terasa banget lah,” kata Andre.
Andre memperingatkan bahwa jika pemerintah tidak mengambil langkah antisipatif dalam tiga bulan ke depan, dampaknya bisa jauh lebih besar. Persediaan bahan bangunan yang masih tersedia saat ini memberikan sedikit jeda, namun kondisi itu tidak akan bertahan lama. Pelemahan rupiah yang sudah menembus level Rp17.800 per dolar AS juga berkontribusi terhadap naiknya biaya operasional pengembang.
“Saat ini dampaknya belum signifikan. Karena kenapa? Persediaan bahan-bahan di kami itu masih banyak, apalagi kami akan bangun 1.000 rumah gitu kan. Mungkin ini akan berdampak serius dalam 2-3 bulan akan datang. Kenaikannya bisa lebih tinggi,” jelas Andre.
Segmen Mewah Lebih Tahan Banting
Joko Suranto menegaskan bahwa segmen perumahan mewah relatif tidak terdampak oleh pelemahan rupiah karena daya beli konsumen di level atas masih cukup kuat. Berbeda dengan kelas menengah yang tidak memiliki banyak pilihan terhadap kenaikan harga material.
“Kalau komersil bisa berdampak, kalau yang tidak terdampak itu adalah mereka yang di level atas ya, rumah mewah ya. Yang tidak terdampak itu adalah level paling atas, karena mereka punya pilihan, punya daya dukung tinggi. Sedangkan kelas menengah kan tidak punya pilihan,” terangnya.
Meski demikian, pasar properti nasional secara keseluruhan masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan ekonomi global. Kondisi ini menambah daftar tantangan bagi program 3 juta rumah yang dicanangkan pemerintah. Selain tekanan dari nilai tukar, pelemahan rupiah juga berdampak pada kinerja saham sektor properti di bursa. Ketersediaan lahan yang semakin terbatas dan biaya pembiayaan yang masih tinggi menjadi faktor lain yang perlu diwaspadai oleh seluruh pemangku kepentingan di industri properti nasional.












