Jakarta — Cuaca ekstrem semakin menjadi ancaman serius bagi dunia usaha di Indonesia. Kasus terbaru datang dari PT Harum Sari Prima Food Industries yang harus mengajukan klaim asuransi senilai Rp 1,2 miliar setelah banjir merendam fasilitas produksinya di Balaraja, Banten, pada Januari 2026 lalu.
Klaim ini ditangani oleh PT Asuransi Mitra Pelindung Mustika (MPMInsurance) yang secara resmi menyelesaikan pembayaran sebesar Rp 1.287.042.151 pada 13 Mei 2026. Direktur Marketing MPMInsurance, Poppy Panca, menegaskan bahwa kejadian ini menjadi pengingat betapa pentingnya mitigasi risiko bagi pelaku industri.
Banjir Sabung Curah Hujan Tinggi
Insiden bermula saat curah hujan tinggi berlangsung selama sepekan di wilayah Balaraja. Air sungai di belakang area pabrik Harum Sari meluap dan merembes masuk ke dalam bangunan, mengganggu seluruh aktivitas operasional perusahaan.
“Pengajuan klaim ini didasari atas insiden banjir yang melanda fasilitas produksi PT Harum Sari Prima Food Industries pada Januari 2026 lalu,” ungkap Poppy dalam keterangannya, Selasa, 2 Juni 2026.
Dampak banjir tidak terbatas pada kerusakan aset dan fasilitas produksi semata. Ancaman serupa juga mengancam 55 juta warga di kawasan Pantura Jawa. Proses distribusi terhambat, rantai pasok terganggu, dan produktivitas perusahaan menurun signifikan. Sebagai perbandingan, penting untuk memahami perbandingan biaya dan risiko memiliki rumah. Kondisi ini menunjukkan bahwa risiko cuaca ekstrem memiliki efek berantai yang jauh lebih luas dari kerusakan fisik langsung.
Perubahan Iklim Perkuat Urgensi Asuransi Properti
Poppy menekankan bahwa meningkatnya dinamika risiko bisnis dan tantangan perubahan iklim membuat kebutuhan akan perlindungan aset menjadi semakin relevan. MPMInsurance melakukan peninjauan langsung di lapangan dan mendampingi nasabah dalam proses penilaian kerugian hingga seluruh tahapan verifikasi selesai.
“Komitmen kami untuk ‘Melindungi dengan Pasti, Mendampingi dengan Hati’ dibuktikan lewat tindakan nyata. Fokus kami adalah memberikan kepastian, agar operasional usaha nasabah dapat segera berjalan normal kembali,” kata Poppy.
Bagi pemilik properti dan pelaku industri, kasus ini menjadi pelajaran berharga. Meskipun pasar properti nasional tetap stabil, memiliki asuransi properti yang komprehensif bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya frekuensi bencana alam akibat perubahan iklim.














