Today

Biaya Konstruksi Rumah Melonjak 15%, Pengembang Properti Terjebak Antara Rugi dan Sepi Pembeli

Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Biaya Konstruksi Properti Indonesia

Jakarta — Pelemahan rupiah yang terus berlanjut hingga menembus level Rp17.500 per dolar AS memberikan pukulan telak bagi industri properti nasional. Para pengembang mengungkapkan biaya konstruksi rumah melonjak signifikan, memaksa mereka mempertimbangkan kenaikan harga jual kepada konsumen.

Deddy Indrasetiawan, Sekjen Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI), membeberkan dampak nyata dari tekanan kurs terhadap bisnis properti. Kenaikan biaya tak bisa dihindari karena material bangunan memiliki keterkaitan langsung dengan nilai tukar.

Biaya Konstruksi Meroket, Margin Pengembang Tergerus

“Pada saat kebijakan Gubernur Jawa Barat terkait tambang disetop, kami kena kenaikan Rp 4 juta per rumah. Sekarang dampak dari perang dan BBM, kenaikan material bangunan rata-rata 15%,” ungkap Deddy kepada CNBC Indonesia.

Lonjakan biaya konstruksi ini dirasakan langsung pada pembangunan rumah subsidi tipe 35/60, segmen yang selama ini menjadi andalan pengembang daerah. Margin proyek semakin tertekan di tengah biaya yang terus membengkak.

Situasi semakin diperparah oleh perubahan pola pembayaran dari pemasok bahan bangunan. Sejumlah supplier kini mewajibkan pembayaran di muka sebelum barang dikirim, terutama untuk material yang menjadi rebutan.

Material Langka, Harga Semakin Tak Terkendali

“Kenaikan material. Sudah gitu ada beberapa material harus bayar di depan baru kemudian dikirim. Kalau material alam pasti di depan dulu sekarang. Karena rebutan,” jelas Deddy.

Beberapa bahan bangunan yang mulai mengalami tekanan harga antara lain mebel dan keramik. Pelemahan rupiah juga disebut membuat biaya material tertentu semakin berat karena masih memiliki keterkaitan dengan impor.

Meski biaya pembangunan melonjak, pasar properti residensial belum menunjukkan pemulihan berarti. Penjualan rumah masih stagnan dibanding tahun lalu karena daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya.

Penjualan Stagnan di Tengah Badai Biaya

“Penjualan hampir sama seperti tahun lalu, belum ada peningkatan signifikan,” ujar Deddy.

Ia juga menilai dampak pelemahan rupiah sulit dipisahkan dari efek kenaikan BBM karena keduanya terjadi dalam waktu bersamaan. Kedua faktor itu sama-sama mendorong lonjakan biaya pembangunan yang tak terhindarkan.

“Ini nggak bisa kami pisahkan karena berbarengan dengan kenaikan BBM,” tegasnya.

Data Refinitiv mencatat, rupiah ditutup melemah 0,49% ke posisi Rp17.490/US$ pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Posisi ini sekaligus menjadi level penutupan terlemah rupiah sepanjang sejarah terbaru. Sepanjang perdagangan, pelemahan rupiah sempat semakin dalam hingga menembus level psikologis Rp17.500/US$.

Situasi ini menciptakan dilema bagi pengembang: menahan harga berarti menelan kerugian, sementara menaikkan harga berisiko semakin menekan minat beli masyarakat yang sudah tertekan. Industri properti nasional kini berada di persimpangan jalan, menanti kebijakan pemerintah yang mampu meredam badai ekonomi ini.

Masalah ini sejalan dengan tantangan harga rumah subsidi di tengah lonjakan material konstruksi yang selama ini menjadi perhatian utama pelaku industri. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, tekanan biaya berpotensi menghambat Program 3 Juta Rumah yang menjadi prioritas pemerintah.

Related Post

Leave a Comment