Friday, 29 May 2026

AS dan Iran Sepakati Gencatan Senjata 60 Hari, Tapi Satu Hal Ini Masih Jadi Penghalang

Presiden AS Donald Trump gencatan senjata Iran 60 hari

Jakarta — Negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase kritis setelah kedua belah pihak berhasil menyepakati draf perjanjian perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Kesepakatan ini menjadi momen paling signifikan sejak konflik bersenjata meletus pada 28 Februari lalu, namun satu hambatan besar masih mengganjal: Presiden Donald Trump belum memberikan persetujuan resminya.

Selat Hormuz Jadi Kunci Negosiasi

Salah satu poin paling krusial dalam draf kesepakatan ini adalah pencabutan pembatasan pengiriman dan lalu lintas kapal yang melalui Selat Hormuz. Selat strategis ini menjadi urat nadi perdagangan minyak global, dan pembatasannya selama konflik berdampak luas terhadap stabilitas harga energi dunia. Seperti yang terlihat dalam anjloknya harga minyak dunia hampir 17 persen dalam dua pekan terakhir, dinamika geopolitik di Hormuz memiliki pengaruh langsung terhadap pasar komoditas. Selain Hormuz, AS juga berkomitmen mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran serta melonggarkan beberapa sanksi perdagangan minyak.

Namun, langkah ini tidak datang tanpa syarat. Iran harus bersedia membahas isu-isu sensitif seperti program nuklirnya — topik yang selama ini menjadi batu sandungan utama dalam setiap putaran dialog antara kedua negara.

JD Vance: Optimis tapi Belum Jaminan

Wakil Presiden AS JD Vance mengungkapkan sikap yang hati-hati namun optimis terkait perkembangan terkini ini. “Kita belum sampai di sana, tetapi kita sudah sangat dekat dan kita akan terus berupaya,” ujar Vance kepada Reuters. Ia menambahkan bahwa dirinya “merasa cukup optimis” meski tidak bisa menjamin kesepakatan final akan tercapai.

Pernyataan Vance ini sejalan dengan pola komunikasi Pemerintah Trump yang sejak pertengahan Maret terus meyakinkan publik bahwa akhir perang sudah di depan mata — klaim yang berulang kali dibantah dan “diremehkan” oleh Teheran.

Iran Tuntut Pencabutan Sanksi dan Penarikan Pasukan

Di sisi lain, Iran tidak tinggal diam. Teheran menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai harus mencakup pencabutan sanksi ekonomi, pencairan aset-aset negaranya yang dibekukan di luar negeri, serta penarikan seluruh pasukan AS dari kawasan Timur Tengah. Lebih jauh, Iran juga menegaskan bahwa perdamaian sejati baru akan tercapai jika Israel menghentikan serangannya di Lebanon.

Kantor berita Tasnim mengutip sumber yang mengetahui jalannya negosiasi bahwa teks perjanjian belum difinalisasi dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh kedua pihak. Ketidakjelasan status kesepakatan ini menciptakan ketegangan tersendiri di tengah harapan dunia akan berakhirnya konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan.

Dampak terhadap Stabilitas Global

Jika kesepakatan ini berhasil direalisasikan, dampaknya akan terasa jauh melampaui perbatasan AS dan Iran. Pembukaan kembali Selat Hormuz diprediksi akan menstabilkan harga energi global yang sempat mengalami gejolak tajam. Tak hanya itu, negosiasi perdamaian yang berjalan lancar berpotensi memicu rally di bursa saham regional, termasuk indeks IHSG yang masih bergerak di zona konsolidasi seiring volatilitas yang dipicu rebalancing MSCI dan kebijakan DHE.

Pasar valuta asing juga menjadi sorotan. Rupiah yang belakangan ini tertekan hingga mendekati level Rp17.900 per dolar AS mendapat perhatian khusus dari Bank Indonesia. Pencabutan sanksi minyak Iran diperkirakan akan memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk lebih leluasa menjaga stabilitas nilai tukar.

Ketidakpastian masih menjadi dominan. Dunia kini menunggu satu keputusan dari satu orang: Donald Trump. Apakah ia akan menandatangani draf kesepakatan yang sudah di depan mata, ataukah ia akan kembali menunda — seperti yang sudah dilakukannya berulang kali sejak Maret lalu. Jawabannya akan menentukan arah konflik dan ekonomi global untuk bulan-bulan ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *