Jakarta — Di tengah tekanan Rupiah yang terus melemah terhadap Dolar AS dan gejolak pasar modal domestik, para investor serta pengusaha Indonesia mulai melirik pasar properti luar negeri sebagai strategi diversifikasi aset. Australia menjadi salah satu destinasi utama yang paling diminati berkat stabilitas ekonomi dan transparansi regulasi yang ditawarkan negara Kanguru tersebut. Fenomena ini tidak terlepas dari kaburnya asing dari pasar saham Indonesia senilai Rp 54 triliun.
One Global Capital, pengembang properti asal Australia, baru saja menggelar roadshow di sejumlah kota besar Indonesia sepanjang Juni 2026. Roadshow ini menjadi bagian dari rangkaian edukasi dan penguatan jaringan bisnis internasional bagi kalangan investor Tanah Air yang ingin memperluas portofolio ke pasar global.
Pasar Properti Australia Stabil meski Suku Bunga Naik
Merujuk data Reuters per 2 Juni 2026, harga rumah di Australia tercatat stabil pada Mei 2026 setelah sebelumnya mencatatkan reli panjang hingga menyentuh rekor tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Reserve Bank of Australia (RBA) telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini, yakni pada Februari, Maret, dan Mei, sehingga suku bunga acuan kini berada di level 4,35 persen.
Sentral bank tersebut mengambil langkah pengetatan untuk menekan inflasi sekaligus menghapus seluruh pelonggaran kebijakan moneter yang diberikan pada tahun lalu. Meskipun demikian, respons pasar terhadap kenaikan suku bunga tidak seragam di seluruh kota besar.
Pergerakan Harga di Lima Kota Besar
Secara nasional, tren harga rumah di lima kota utama Australia bervariasi pada periode Mei 2026 setelah sebelumnya terus mencatat kenaikan bulanan dan mencapai level tertinggi sejak awal 2025. Sydney terkoreksi 0,9 persen dan Melbourne turun 0,8 persen. Di sisi lain, Perth justru naik 1,5 persen, diikuti Brisbane yang menguat 0,9 persen serta Adelaide yang naik 0,5 persen.
Polarisasi ini menunjukkan bahwa momentum pertumbuhan properti di Australia tidak monoton. Kota-kota seperti Perth dan Brisbane justru memberikan peluang lebih besar bagi investor yang memilih waktu masuk secara strategis.
One Global Capital Bidik Pertumbuhan Agresif di 2026
Chairman and Group CEO One Global Capital, Iwan Sunito, menjelaskan bahwa perubahan lanskap ekonomi global telah membuka peluang baru bagi individu dan pelaku usaha yang siap berpikir melampaui batas-batas geografis tradisional. “Kami ingin memberi wawasan mengenai pasar properti Australia, tren ekonomi global, strategi diversifikasi aset lintas negara, peluang pengembangan bisnis internasional, serta jalur mobilitas dan migrasi bagi keluarga dan entrepreneur Indonesia,” ungkapnya.
Saat ini, One Global Capital memiliki development pipeline senilai sekitar AUS$3,6 miliar atau setara Rp46 triliun. Perusahaan menargetkan pertumbuhan menjadi lebih dari AUS$6 miliar (Rp76,7 triliun) serta Asset Under Management (AUM) menembus AUS$1 miliar (Rp12,7 triliun) sebelum akhir 2026 melalui berbagai proyek strategis di Australia.
Antara Peluang Global dan Tantangan Domestik
Ketertarikan investor Indonesia terhadap properti luar negeri tidak terlepas dari kondisi ekonomi domestik yang sedang tertekan. Nilai tukar Rupiah yang terus merosot, fluktuasi IHSG, dan tingginya biaya konstruksi dalam negeri mendorong sebagian kalangan berduit untuk mencari alternatif penyimpanan nilai di luar negeri. Kebijakan DHE SDA yang berlaku 1 Juni 2026 juga menjadi faktor pertimbangan bagi para pelaku bisnis properti dalam mengelola arus kas lintas negara.
Australia menawarkan kombinasi yang menarik antara lingkungan bisnis yang stabil, kualitas hidup yang tinggi, serta akses ke jaringan global. Faktor-faktor ini menjadi daya tarik utama bagi keluarga dan entrepreneur Indonesia yang membutuhkan kepastian dan keamanan jangka panjang bagi aset mereka. Meskipun proyeksi bisnis properti Indonesia tetap positif di 2026, tekanan makro ekonomi tetap menjadi tantangan signifikan.
Namun, kenaikan suku bunga RBA yang agresif menjadi pengingat bahwa pasar properti Australia pun tidak kebal terhadap tekanan moneter. Keputusan berinvestasi di luar negeri tetap memerlukan analisis mendalam mengenai timing, lokasi, dan profil risiko masing-masing investor.













