Jakarta — Harga emas dunia yang melambung ke rekor tertinggi memicu gelombang penambangan ilegal besar-besaran di hutan hujan Amazon, Brasil. Konflik bersenjata antara suku adat dan para penambang liar kini mengancam kelestarian ekosistem terbesar di planet ini sekaligus membuka celah krisis ekonomi baru.
Kepala suku adat Bepdjo Mekragnotire memimpin sekelompok prajurit Kayapo untuk mengusir penambang emas liar dari wilayah Adat Bau di negara bagian Para. Dalam empat tahun terakhir, setidaknya 200 penambang berhasil diusir dari wilayah tersebut.
“Para penambang itu keras kepala. Mereka masuk dengan cara apa pun. Karena saat ini harga emas sangat tinggi,” kata Bepdjo.
“Kita harus mengusir mereka, kalau tidak, mereka akan terus menerobos masuk,” ujarnya.
Senjata Diacungkan di Atas Sungai Amazon
Ketegangan memuncak pada Februari lalu ketika kepala suku Bepdjo dan prajurit Kayapo bertemu para penambang di sebuah kano. Senjata sempat diacungkan di kedua sisi. Sebanyak 24 penambang berhasil diusir dalam insiden tersebut.
“Kami tidak tahu berapa banyak penambang di dalam, kami hanya sampai di sana dan melihat,” tambah Bepdjo.
Harga emas yang mencetak rekor baru di tengah ketidakstabilan global menjadi pendorong utama para penambang liar menerobos masuk ke daerah-daerah yang relatif belum tersentuh seperti wilayah Adat Bau. Fenomena ini tak terlepas dari gejolak harga komoditas global yang belakangan menghangat, termasuk anjloknya harga minyak dunia hampir 17 persen dalam dua pekan terakhir.
223.000 Hektar Hutan Rusak, 80 Persen Ilegal
Amazon Mining Watch mencatat area seluas 223.000 hektar terdampak aktivitas pertambangan di Brasil antara tahun 2018 dan 2025. Hampir 80 persen di antaranya merupakan aktivitas ilegal. Potensi kerugian ekonomi dari aktivitas ilegal semacam ini mengingatkan pada modus investasi bodong yang baru saja digerebek Satgas PASTI.
Situasi semakin memburuk masa kepemimpinan mantan Presiden Jair Bolsonaro yang mendorong iklim impunitas di Amazon. Sejak Presiden Luiz Inacio Lula da Silva menjabat pada 2023, pemerintahnya telah menindak tegas penambangan ilegal. Namun upaya ini belum sepenuhnya berhasil.
Para pengusaha tambang telah beradaptasi dengan cepat. Operasi mereka berubah dari penambangan artisanal menjadi bisnis bernilai jutaan dolar yang menggunakan mesin berat dan armada pesawat kecil.
“Para penambang mundur semakin dalam ke hutan,” kata Nilton Tubino, yang ditunjuk pemerintah Lula untuk memimpin operasi perlindungan wilayah adat.
“Kami terus-menerus bergulat dengan tantangan yang ditimbulkan oleh skala wilayah yang sangat besar ini dan kapasitas organisasi untuk dengan cepat membangun kembali apa yang telah kami hancurkan,” ujarnya.
Krisis Baru: Emas Diselundupkan ke Guyana dan Venezuela
Institut Escolhas memperingatkan munculnya krisis baru akibat penindakan pemerintah. Emas yang sebelumnya keluar dari Brasil melalui jalur resmi kini diselundupkan melalui negara-negara seperti Guyana atau Venezuela.
Celah lain berupa “tambang hantu” juga menjadi masalah. Lokasi-lokasi tersebut memiliki izin penambangan artisanal dan menyatakan penjualan emas, namun ketika terbang di atasnya, tidak ada tanda-tanda aktivitas penambangan.
Danicley de Aguiar, koordinator kampanye Masyarakat Adat Greenpeace Brasil, mengatakan emas yang diambil dari kawasan lindung kemungkinan besar dicuci melalui skema semacam itu. Brasil memproduksi 71 ton emas pada tahun 2025, yang diekspor ke Kanada, Swiss, dan Inggris. Dampak terhadap pasar keuangan global juga terasa, apalagi saham big banks sempat ambruk jelang long weekend akibat sentimen pasar yang fluktuatif.
Di sisi lain, Fernando Lucas selaku Presiden Federasi Koperasi Penambang Emas di Para mengaku muak dengan para penambang yang dicap sebagai penjahat. Ia menekankan banyak penambang yang ingin beroperasi secara legal namun terjebak dalam birokrasi.
“Tetapi terjebak dalam birokrasi dan menyerukan model yang lebih terorganisir dan berkelanjutan,” tambahnya.











