Jakarta — Pelemahan rupiah yang terus berlanjut membuat biaya konstruksi rumah melonjak signifikan. Pengembang properti nasional mengaku terpaksa menanggung kenaikan biaya material hingga 15 persen akibat nilai tukar yang semakin tertekan terhadap dolar AS.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Deddy Indrasetiawan mengungkapkan dampak langsung pelemahan rupiah terhadap industri properti. Biaya pembangunan rumah subsidi tipe 35/60 yang menjadi segmen utama pengembang daerah kini semakin berat.
Kenaikan Biaya Konstruksi Melampaui Proyeksi
Deddy menjelaskan sejumlah faktor yang mendorong biaya konstruksi membengkak. Kebijakan Gubernur Jawa Barat terkait tambang yang disetok telah menambah beban Rp4 juta per unit rumah. Kini, pelemahan rupiah dan kenaikan harga BBM menambah tekanan baru.
“Pada saat kebijakan Gubernur Jawa Barat terkait tambang disetop, kami kena kenaikan Rp 4 juta per rumah. Sekarang dampak dari perang dan BBM, kenaikan material bangunan rata-rata 15%,” ujar Deddy kepada CNBC Indonesia, Selasa (12/5/2026).
Supplier Minta Pembayaran di Muka
Situasi semakin rumit karena perubahan pola pembayaran dari pemasok bahan bangunan. Sejumlah supplier kini meminta pembayaran di muka sebelum barang dikirim, terutama untuk material yang permintaannya tinggi. Tekanan ini berdampak langsung pada harga jual rumah, termasuk segmen rumah terjangkau yang kini menyentuh Rp1 miliar.
“Kenaikan material. Sudah gitu ada beberapa material harus bayar di depan baru kemudian dikirim. Kalau material alam pasti di depan dulu sekarang. Karena rebutan,” kata Deddy.
Bahan bangunan yang paling terdampak antara lain mebel dan keramik. Pelemahan rupiah membuat biaya material tertentu semakin berat karena masih memiliki keterkaitan langsung dengan impor.
Penjualan Rumah Masih Stagnan
Meski biaya pembangunan melonjak, pasar properti residensial belum menunjukkan pemulihan berarti. Penjualan rumah masih stagnan dibanding tahun lalu karena daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. Situasi ini makin diperparah oleh kenaikan BI Rate ke 5,25% yang menambah beban cicilan KPR bagi pembeli.
“Penjualan hampir sama seperti tahun lalu, belum ada peningkatan signifikan,” ungkap Deddy.
Deddy menilai dampak pelemahan rupiah sulit dipisahkan dari efek kenaikan BBM karena keduanya terjadi dalam waktu bersamaan. Kedua faktor itu sama-sama mendorong lonjakan biaya pembangunan.
“Ini nggak bisa kami pisahkan karena berbarengan dengan kenaikan BBM,” ujarnya.
Rupiah Catat Rekor Baru
Berdasarkan data Refinitiv, Selasa (12/5/2026), mata uang Garuda ditutup melemah 0,49% ke posisi Rp17.490/US$. Posisi ini sekaligus menjadi level penutupan terlemah rupiah sepanjang sejarah terbaru.
Sepanjang perdagangan, pelemahan rupiah sempat semakin dalam hingga menembus level psikologis Rp17.500/US$. Rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah intraday di posisi Rp17.525/US$.
Situasi ini menambah kekhawatiran pengembang properti yang sudah berjuang menghadapi tekanan biaya sebelumnya. Dampaknya bisa menjalar ke berbagai sektor ekonomi lainnya, termasuk perbankan, bahan bangunan, dan industri furnitur yang padat karya. Di tengah tekanan global seperti ini, sewa hunian terjangkau justru menguat sebagai penopang pasar properti nasional.











