Jakarta — Iran mengirim sinyal keras kepada Amerika Serikat bahwa setiap pelanggaran gencatan senjata akan berujung pada konsekuensi yang jauh lebih mengerikan dari perang sebelumnya. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa pembalasan masa depan bakal menampilkan “jauh lebih banyak kejutan” ketimbang konflik 40 hari lalu.
Pernyataan ini muncul di tengah negosiasi yang berjalan antara Teheran dan Washington. Namun kenyataannya, konfrontasi militer di lapangan justru menunjukkan ketegangan yang belum mereda. AS dilaporkan meluncurkan gelombang serangan kedua ke Iran hanya dalam hitungan hari minggu ini, sementara kontak senjata masih berlanjut di Selat Hormuz. Situasi ini berlangsung di tengah eskalasi konflik Israel-Gaza yang terus berlanjut.
Korps Garda Revolusi Ancam Serangan Luar Biasa
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa konflik baru akan menyebar jauh melampaui kawasan Timur Tengah. Mereka mengancam serangan yang menghancurkan di tempat-tempat yang bahkan tidak dapat dibayangkan oleh para lawan. Peringatan ini merujuk pada kemampuan Iran yang telah terbukti menargetkan pangkalan militer AS, kota-kota Israel, dan infrastruktur kritis negara-negara Arab Teluk.
Negosiator top Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menambahkan bahwa angkatan bersenjata mereka telah memanfaatkan masa gencatan senjata untuk membangun kembali kemampuan pertahanan pada tingkat tertinggi. Teheran tampaknya tidak mau mengulangi kesalahan masa lalu.
Blokade Maritim: Senjata Paling Mematikan
Para analis menilai strategi utama Iran bukanlah perang konvensional, melainkan blokade maritim yang bisa melumpuhkan perekonomian global. Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur pelayaran kritis sempat lumpuh total saat perang, memicu guncangan energi dunia.
Kini Teheran diprediksi bakal mengincar koridor maritim vital lainnya. Dengan mengaktifkan kelompok proksinya yaitu Houthi di Yaman, Iran berpotensi menutup Selat Bab al-Mandeb yang menjadi urat nadi perdagangan antara Eropa, Asia, dan dunia Arab. Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan bahwa lebih dari 10% perdagangan minyak laut dunia melewati selat tersebut pada 2023.
Umud Shokri, pakar strategi energi dari George Mason University, memperingatkan dampak fatal jika kedua selat ditutup secara bersamaan. “Krisis simultan di Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz akan jauh lebih serius, berpotensi menaikkan harga minyak, tarif pengiriman, dan tekanan inflasi di seluruh dunia,” ujarnya. Dampak ini diperkirakan akan semakin memperparah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang sudah dalam posisi lemah.
Ancaman Serang Sumur Minyak Negara Teluk
Ancaman paling ekstrem datang dari anggota komite keamanan nasional Iran Ahmad Bakhshayesh Ardestani. Ia menegaskan bahwa jika AS berani menargetkan fasilitas minyak Iran, Teheran akan membalas dengan menyerang sumur-sumur minyak negara Arab Teluk.
“Jika mereka berniat melakukan sesuatu sehingga kami tidak memiliki minyak, kami akan menyerang sumur-sumur minyaknya sehingga mereka juga tidak memiliki minyak dan bahan bakar menjadi mahal bagi dunia,” tegas Ardestani.
Selain itu, kelompok proksi Iran di Irak tetap dituduh oleh Uni Emirat Arab atas serangan yang mengarah ke pembangkit listrik tenaga nuklir di Abu Dhabi meski gencatan senjata sudah berlaku sejak 8 April lalu. Wilayah Arab Saudi juga terus menjadi sasaran pesawat nirawak dari arah Irak. Ancaman terhadap infrastruktur energi ini dikhawatirkan akan berdampak langsung pada stabilitas harga bahan bakar di Indonesia.
Diplomasi Masih Jadi Harapan Terakhir
Meski retorika perang semakin keras, beberapa pengamat masih melihat adanya celah diplomasi. Nicole Grajewski, asisten profesor di Pusat Studi Internasional Sciences Po Paris, memperkecil kemungkinan Iran memiliki senjata kejutan baru karena jenis persenjataan mereka sudah sangat dikenal dunia.
Namun, fakta bahwa Iran mampu melumpuhkan jalur pelayaran global dan memicu krisis energi membuat situasi ini menjadi taruhan tinggi bagi seluruh dunia. Harga minyak dan stabilitas ekonomi global sangat bergantung pada bagaimana pertarungan diplomatik antara Teheran dan Washington berakhir.









