Sunday, 31 May 2026

Rumah Premium Rp30-80 Miliar di BSD Gading Serpong Justru Cepat Sold Out, Broker Sampai Kaget

Ilustrasi rumah mewah premium di kawasan BSD dan Gading Serpong yang cepat sold out meski harga puluhan miliar rupiah

Jakarta — Segmen properti super premium di Indonesia justru mencatat anomali menarik di tengah perlambatan pasar. Sementara penjualan rumah menengah anjlok hingga 25,67 persen pada kuartal I-2026, rumah-rumah mewah bernilai puluhan miliar rupiah justru laris manis dan cepat habis terjual.

Ketua DPD AREBI Provinsi Banten Vemby mengungkapkan fenomena tersebut terjadi di kawasan elite BSD City dan Gading Serpong, Banten. Harga properti di kawasan ini sudah menembus angka belasan miliar hingga double digit rupiah per unit.

Nava Park BSD Jadi Sorotan

Salah satu proyek yang paling mencuri perhatian adalah Nava Park BSD. Unit-unit di kawasan ini dijual dengan harga mulai Rp30 miliar hingga Rp80 miliar. Yang mengejutkan, seluruh unit tersebut cepat habis terjual meski harganya terbilang fantastis.

“Di Nava Park BSD bahkan sampai Rp 30 miliar, Rp 80 miliar. Itu malah cepat sold out Pak,” ujar Vemby.

Pengembang memang sengaja membatasi jumlah unit yang dilepas ke pasar. Dalam satu tahap pemasaran, biasanya hanya belasan hingga 20 unit yang tersedia. Strategi ini menciptakan kesan eksklusif yang justru meningkatkan daya tarik di mata konsumen kelas atas.

“Unitnya nggak banyak, paling belasan atau 20 unit. Jadi memang limited dan spesial,” kata Vemby.

Pembeli Premium Tetap Ada di Tengah Perlambatan

Yang membuat para broker terkejut adalah kenyataan bahwa pembeli properti premium tetap aktif meski kondisi ekonomi sedang tertekan. Konsumen segmen ini dinilai memiliki ketahanan finansial yang kuat sehingga tidak terlalu terpengaruh gejolak pasar.

“Kita juga sempat kaget kok market yang begini uangnya ada aja terus pembeliannya jalan,” sambung Vemby.

Faktor lain yang membuat transaksi premium berjalan cepat adalah profil pembeli yang sudah menargetkan proyek tertentu sejak lama. Ketika proyek akhirnya diluncurkan, mereka langsung melakukan transaksi tanpa perlu waktu pertimbangan yang panjang.

Pasar Menengah Justru Lesu

Kontras dengan segmen premium, pasar rumah kelas menengah mengalami perlambatan yang signifikan. Konsumen di segmen ini semakin berhati-hati dan membutuhkan waktu lebih lama untuk memutuskan pembelian. Fenomena ini juga terlihat di Tangerang yang resmi geser Jakarta Selatan sebagai incaran baru pencari rumah.

“Yang segmen lain, menengah sama bawah turun cukup banyak. Terutama segmen tengah yang paling banyak kena,” ujar Vemby.

Pergeseran profil pembeli juga terjadi secara fundamental. Jika sebelumnya pasar didominasi investor yang membeli untuk tujuan investasi, kini lebih banyak end user yang membeli untuk hunian sendiri. Kondisi ini membuat proses transaksi berjalan lebih lambat karena pembeli end user cenderung lebih selektif dan teliti.

“Kalau dulu investor banyak. Sekarang lebih banyak end user, jadi transaksinya nggak secepat dulu,” kata Vemby.

Developer Kombinasi Produk

Merespons dinamika pasar yang berubah, pengembang besar kini mulai menyeimbangkan portofolio produk mereka. Tidak lagi fokus pada satu segmen, mereka menawarkan kombinasi rumah premium, menengah, hingga kawasan komersial dalam satu kawasan pengembangan. Seperti yang dilakukan ThirdHome yang ekspansi ke Indonesia dengan tren pertukaran rumah mewah.

“Developer sekarang kombinasi barangnya lebih banyak. Ada yang Rp 1 miliar sampai premium Rp 3-7 miliar tetap mereka isi,” ujar Vemby.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar properti Indonesia tidak monolitik. Meski secara keseluruhan mengalami perlambatan, segmen tertentu justru menunjukkan ketahanan dan bahkan pertumbuhan. Bagi calon pembeli rumah premium, momen ini bisa menjadi kesempatan untuk mendapatkan unit di kawasan prestisius sebelum harga terus meroket.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *