Today

BNPB Bongkar Fakta: Rumah Adat Indonesia Tahan Gempa, Rumah Modern Justru Roboh

Hendra Kusuma

Rumah Gadang Minangkabau dan Rumah Adat Nias Tahan Gempa

Jakarta — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap fakta mengejutkan soal ketahanan bangunan terhadap gempa bumi. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyebut rumah adat Indonesia jauh lebih tangguh menghadapi guncangan dibanding rumah modern yang dibangun dari batu bata.

Pernyataan ini disampaikan Suharyanto saat memberikan orasi ilmiah di Padang, Sumatera Barat. Ia menyoroti bagaimana kearifan lokal nenek moyang terbukti melindungi penghuninya saat bencana melanda.

Rumah Gadang Selamat, Rumah Modern Roboh di Pasaman

Bukti paling nyata terjadi saat gempa mengguncang Pasaman dan Pasaman Barat pada 2022 silam. Rumah-rumah modern yang dibangun dari bata ringan dan beton rata dengan tanah. Sebaliknya, rumah gadang Minangkabau berdiri tegak tanpa kerusakan berarti.

“Nenek moyang kita itu mereka sudah tahu, sudah berusaha memberikan kearifan lokal, ini terbukti tahun 2022 terjadi gempa bumi di Pasaman dan Pasaman Barat. Rumah-rumah modern yang dibangun pakai batu bata roboh dan hancur. Tapi rumah gadang, justru selamat rumahnya tidak apa-apa,” kata Suharyanto.

Rahasia ketahanan rumah gadang terletak pada konstruksi tiang yang diletakkan di atas batu, bukan ditancapkan langsung ke tanah. Saat gempa menggoyang struktur, tiang-tiang tersebut bisa bergerak fleksibel tanpa patah. Berbeda dengan rumah modern yang konstruksinya kaku dan rentan retak.

Rumah Nias dan Panggung Kalimantan: Desain Anti Bencana

Suharyanto juga menyoroti rumah adat Nias yang memiliki sistem penyangga antar tiang. Struktur ini terbukti efektif saat gempa besar melanda Nias pada 2005 silam. Rumah-rumah dengan penyangga struktur tetap berdiri kokoh sementara bangunan di sekitarnya hancur.

“Gempa Nias 2005 ada kearifan lokal, rumah-rumah di Nias ada penyangga struktur, rumah ini tidak rusak. Rumah adat Nias dengan penyangga ini sebagai bangunan tahan gempa,” ujar Suharyanto.

Selain itu, rumah panggung di Kalimantan juga memiliki keunggulan tersendiri. Konstruksi yang terangkat dari tanah terbukti efektif melindungi penghuninya saat banjir melanda. Air dapat mengalir bebas di bawah bangunan tanpa merusak struktur utama. Konsep adaptif seperti ini sejalan dengan tren konstruksi modular untuk hunian sementara yang kini makin diminati.

Lokasi Strategis: Mitigasi Tsunami Secara Alami

Keunggulan rumah gadang tidak hanya soal konstruksi. Suharyanto menekankan bahwa nenek moyang Minangkabau juga memahami risiko tsunami. Mereka sengaja tidak membangun rumah gadang di tepi pantai.

“Rumah gadang tidak dibangun di tepi pantai, karena sudah tahu ada kemungkinan tsunami,” ujar Suharyanto.

Penempatan lokasi ini menunjukkan pemahaman mendalam masyarakat adat terhadap lingkungan. Mereka membaca pola alam dan menyesuaikan desain hunian dengan potensi bencana di sekitarnya. Pemahaman ini juga mendorong inovasi asuransi parametrik bencana yang melindungi pemilik properti dari risiko bencana alam.

Academics Diminta Gali Kearifan Lokal

Suharyanto berharap para mahasiswa dan akademisi dapat kembali menggali kearifan lokal di wilayah masing-masing. Pengetahuan tradisional ini dapat menjadi fondasi untuk memperkuat kemampuan masyarakat menghadapi bencana.

“Ini penting untuk menggali kearifan lokal,” tegas Suharyanto.

Fakta bahwa rumah adat Indonesia terbukti lebih tahan gempa dari rumah modern seharusnya menjadi bahan renungan bagi pengembang dan perencana kota. Teknologi canggih belum tentu menghasilkan bangunan yang lebih aman dibandingkan desain yang telah teruji selama berabad-abad. Semangat inovasi ini juga tercermin dalam program BTN Housingpreneur yang melahirkan puluhan inovator perumahan berbasis material ramah lingkungan dan mitigasi bencana.

Related Post

Leave a Comment