Jakarta — Nilai tukar rupiah mencatatkan rekor baru setelah menembus level Rp17.940 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (3/6/2026). Posisi ini semakin mendekatkan mata uang Garuda ke level psikologis Rp18.000, memicu kekhawatiran luas di berbagai sektor ekonomi nasional, termasuk properti.
Menteri Keuangan Bantah Isu Stress Test Perbankan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara terkait pelemahan tersebut. Ia membantah beredarnya isu yang menyebut dirinya memerintahkan perbankan melakukan stress test jika dolar menyentuh Rp18.000.
“Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress-stress kalau Rp18.000 lebih. Padahal saya nggak pernah isu seperti itu,” ujar Purbaya saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Ia menambahkan bahwa berbagai rumor beredar di pasar keuangan dan memberikan sentimen negatif terhadap rupiah. “Jadi banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen ke Rupiah agak-agak,” tambahnya.
Dampak Pelemahan Rupiah ke Sektor Properti
Pelemahan rupiah yang terus berlangsung berdampak langsung ke sektor properti. Biaya konstruksi yang bergantung pada material impor seperti baja, semen, dan peralatan bangunan mengalami lonjakan signifikan. Para pengembang harus menanggung beban biaya tambahan yang pada akhirnya berpotensi menaikkan harga jual rumah.
Sebelumnya, data menunjukkan biaya konstruksi rumah telah melonjak 15 persen sejak awal tahun 2026. Kenaikan ini terutama terjadi pada material yang komponennya diimpor dari luar negeri, seperti besi hollow, cat berbahan kimia impor, dan fixtures bathroom premium.
Lebih lanjut, para pengembang perumahan sebelumnya telah mengungkapkan ancaman serius bagi rumah rakyat akibat dolar yang terus menggila. Mereka memperingatkan bahwa jika pelemahan rupiah terus berlanjut, harga hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah akan semakin tak terjangkau.
Pemerintah Klaim Fondasi Ekonomi Masih Kuat
Purbaya menegaskan bahwa dirinya terus menjalankan kewajiban untuk menjaga fondasi ekonomi Indonesia. “Kewajiban saya adalah menjaga fondasi ekonomi aja. Supaya ekonominya berjalan terus semakin cepat,” tegasnya.
Pernyataan ini menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar properti yang selama ini mengandalkan kestabilan makroekonomi sebagai fondasi bisnis. Guncangan pasar modal yang telah terjadi sebelumnya menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar menjadi kunci utama bagi terjaganya harga hunian tetap terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah.
Sementara itu, pelaku industri properti diminta untuk mulai melakukan efisiensi operasional dan mencari substitusi material lokal guna mengurangi ketergantungan terhadap impor. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga daya saing harga rumah di tengah tekanan nilai tukar yang belum menunjukkan tanda pemulihan.












