Jakarta — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menjadi sorotan utama pasar keuangan Indonesia pada Selasa (2/6/2026). Mata uang Garuda itu nyaris menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS setelah merosot ke posisi Rp17.879 di sesi perdagangan pagi.
Situasi ini memicu kekhawatiran luas, terutama bagi sektor properti yang sangat bergantung pada pasokan material impor. Harga baja, semen, hingga komponen elektronik pintar untuk hunian modern berpotensi melonjak jika rupiah terus tertekan. Situaran ini mengingatkan pada tren penjualan rumah yang anjlok 25 persen di awal 2026 lalu.
Analis Prediksi Rupiah Masih Rentan
Lukman Leong, Analis Mata Uang dari DOO Financial Futures, memperkirakan ruang pelemahan rupiah masih terbuka. Meskipun peluang menembus Rp18.000 pada hari yang sama dinilai belum terlalu besar, sentimen negatif dari konflik geopolitik bisa mempercepat laju penurunan.
“Kemungkinan ada, namun tidak besar, masih ada ruang plus 100 poin lebih. Saya berharap tidak akan menembus Rp18 ribu,” ujar Lukman.
Namun, ia mengingatkan bahwa perkembangan situasi di Timur Tengah menjadi faktor penentu. Jika eskalasi konflik antara AS dan Iran berlanjut, tekanan terhadap rupiah akan semakin berat dan berpotensi menembus batas psikologis tersebut dalam waktu dekat.
Dampak Langsung ke Harga Material Bangunan
Pengamat mata uang Ariston Tjendra menambahkan bahwa pelemahan rupiah saat ini didorong oleh konflik AS-Iran yang belum menemui titik terang. Kedua negara belum mencapai kesepakatan damai, bahkan saling serang, yang mendorong kenaikan harga minyak mentah global.
“Penggerak utama pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih soal konflik AS dan Iran. Kabar terbaru, AS dan Iran masing-masing belum sepakat damai, bahkan saling serang yang mendorong kenaikan harga minyak mentah,” ujar Ariston.
Bagi industri properti, pelemahan rupiah memiliki dampak berantai yang signifikan. Biaya impor material konstruksi seperti besi hollow, kaca tempered, dan fixture bathroom meningkat. Developer perumahan subsidi maupun komersial terpaksa menyerap kenaikan biaya atau meneruskannya ke konsumen.
Pengembang Subsidi Paling Terdampak
Sektor perumahan subsidi menjadi yang paling rentan terhadap fluktuasi nilai tukar. Margin tipis yang menjadi syarat program KPR subsidi membuat pengembang kesulitan menyerap lonjakan harga material. Kondisi ini sejalan dengan peringatan pengembang tentang dampak dolar AS terhadap harga rumah subsidi yang sudah disampaikan sebelumnya.
Selain tekanan dari sisi suplai, Ariston juga menyoroti faktor demand dolar AS yang meningkat. Repatriasi dividen oleh perusahaan multinasional dan pembayaran utang luar negeri menciptakan kebutuhan valas yang tinggi di dalam negeri.
“Ditambah isu asing keluar dari pasar saham dan juga pasar obligasi Indonesia, permintaan dolar yang tinggi dari repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri,” katanya.
Strategi Konsumen di Tahanah Pelemahan Rupiah
Kondisi ini menempatkan calon pembeli rumah dalam posisi dilema. Di satu sisi, suku bunga KPR masih relatif tinggi. Di sisi lain, kenaikan harga material berpotensi mendorong harga jual properti naik dalam beberapa bulan ke depan.
Pilihan bijak bagi yang berencana membeli rumah adalah melakukan pembelian di tahap awal sebelum developer menyesuaikan harga. Selain itu, memilih properti dengan material lokal yang lebih minim papuran terhadap fluktuasi nilai tukar bisa menjadi strategi cerdas. Tren ini juga menjelaskan mengapa kenaikan dolar AS mengancam stabilitas harga rumah subsidi di Indonesia.
“Kalau ada eskalasi baru di Timur Tengah ini, rupiah berpotensi makin melemah. Potensi ke Rp18 ribu masih terbuka,” kata Ariston.
Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan dapat mengambil langkah-langkah stabilisasi yang tepat guna menjaga kepercayaan pasar. Sementara itu, pelaku industri properti bersiap menghadapi kemungkinan koreksi harga material yang bisa berlangsung hingga kuartal ketiga 2026.














