Today

Gaji Milenial Rp8 Juta Tak Cukup Bayar Cicilan Rumah, Impian Punya Hunian Semakin Jauh

Rizki Pratama

Ilustrasi rumah minimalis milenial Indonesia

Jakarta — Memiliki rumah sendiri masih menjadi impian besar bagi jutaan generasi milenial Indonesia. Namun kenyataan pahit menunjukkan bahwa gaji bulanan mereka belum mampu mengejar laju kenaikan harga properti. Situasi ini diperparah oleh bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang terus bergerak naik mengikuti kondisi pasar. Terlebih lagi, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ikut mendorong kenaikan biaya material bangunan yang berdampak langsung pada harga jual rumah.

Survei Home Affordability Survey 2025 oleh Bankrate mengungkapkan data mencengangkan dari Amerika Serikat. Satu dari enam calon pembeli rumah gagal menemukan hunian yang sesuai kemampuan finansial mereka selama periode 2020 hingga 2025. Kondisi serupa dialami secara lebih parah oleh generasi muda Indonesia.

Indonesia Masuk 6 Besar Negara Paling Tak Terjangkau

Laporan terbaru The Economist menempatkan Indonesia di peringkat keenam sebagai negara dengan harga hunian paling tidak terjangkau di dunia. Filipina, Sri Lanka, Thailand, India, dan Korea Selatan berada di atasnya. Data ini memperkuat keluhan nyata yang dirasakan masyarakat urban di tanah air. Penjualan properti nasional pun tercatat anjlok 25 persen di kuartal I 2026, memperlihatkan betapa beratnya tekanan yang dihadapi pasar.

Abel Anita, warga Jakarta berusia 33 tahun, mengaku rumah masih menjadi impian yang ingin diwujudkan. Namun kondisi ekonomi saat ini membuat banyak orang memilih menunda pembelian rumah dan tetap mengontrak sambil mengumpulkan tabungan.

“Kalau untuk menyerah mungkin enggak ya. Cuma melihat kondisi ekonomi sekarang yang makin ke sini makin parah, jadi kebanyakan orang memilih kontrak dulu sambil nabung atau investasi,” ujarnya.

Bunga KPR Floating Jadi Beban Berat

Abel menilai pendapatan sekitar Rp8 juta hingga Rp10 juta per bulan menjadi batas minimal untuk mulai memikirkan pembelian rumah. Sayangnya, besarnya kebutuhan hidup sehari-hari membuat upaya mengumpulkan uang muka tetap menjadi tantangan besar.

Ia juga menyoroti beban KPR yang kerap memberatkan masyarakat, terutama ketika bunga kredit berubah mengikuti kondisi pasar. Beberapa bank seperti BRI menawarkan program KPR dengan bunga fixed mulai 2,5 persen untuk aset lelang dan non lelang, namun skema tersebut belum merata dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

“Rumah di Jakarta masih mahal walaupun KPR. Sekitar Rp500 juta, tapi bunganya floating yang naik setiap tahun. Itu yang bikin kebanyakan orang jual rumah karena enggak kuat cicilannya,” kata dia.

Rumah Subsidi Terlalu Jauh dari Pusat Kota

Ghina Nanda, warga Depok berusia 32 tahun, memiliki keluhan berbeda. Menurutnya, program rumah subsidi dari pemerintah kerap menghadapi persoalan lokasi yang jauh dari pusat kegiatan ekonomi dan tempat kerja.

“Rumah subsidi pro rakyat sekarang sudah jauh. Masa saya cari rumah subsidi sudah ke arah sana, menuju Bandung. Kalau tempat tinggal jauh dari tempat kerja, ongkos bertambah, capek juga karena tua di jalan, harus ada kerja lebih dari satu pendapatan biar tercukupi cicil rumah,” kata ia yang bekerja di Jakarta.

Ghina mencontohkan harga rumah di kawasan Depok yang terus meningkat. Rumah yang berada di dalam gang kini banyak ditawarkan dengan harga mendekati Rp1 miliar.

“Di Depok saja rumah masuk gang sudah Rp1 miliar, apalagi Jakarta,” ujarnya.

UMR Tak Sejalan dengan Harga Properti

Doni, warga Jakarta Utara berusia 33 tahun, menilai memiliki rumah tetap menjadi cita-cita hampir semua orang. Namun harga rumah yang terus meningkat tidak sejalan dengan kemampuan finansial sebagian besar pekerja.

“Impian banget semua orang, apalagi rumah di Jakarta,” kata Doni.

Menurutnya, besaran upah minimum yang diterima banyak pekerja saat ini masih sulit digunakan untuk mengejar harga rumah yang terus naik.

“Susah karena kondisi UMR saat ini minim. UMR itu diperuntukkan untuk yang bujang, bukan untuk yang sudah berkeluarga,” ujarnya.

Bagi banyak milenial Indonesia, masalahnya bukan lagi soal keinginan memiliki rumah. Tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana mengejar harga properti yang terus melambung di tengah biaya hidup yang semakin tinggi. Akibatnya, semakin banyak generasi muda yang memilih mengontrak, tinggal bersama keluarga lebih lama, atau mencari hunian di wilayah yang semakin jauh dari pusat kota demi mendapatkan harga yang lebih terjangkau.

Related Post

Leave a Comment