Today

Harga Rumah Makin Mahal, Gaji Milenial Tak Kuat Bayar Cicilan KPR

Pameran properti rumah subsidi Indonesia

Jakarta — Impian memiliki rumah sendiri kini semakin jauh dari jangkauan generasi milenial Indonesia. Survei terbaru dari Bankrate menunjukkan satu dari enam calon pembeli rumah di Amerika Serikat akhirnya menyerah setelah lima tahun berjuang mencari hunian yang sesuai kemampuan finansial mereka. Fenomena ini rupanya bukan hanya terjadi di Negeri Paman Sam, melainkan juga mengancam jutaan anak muda di Tanah Air, sejalan dengan tren impian milenial yang kian menjauh dari kenyataan.

Indonesia Peringkat Enam Rumah Paling Tak Terjangkau

Laporan terbaru The Economist memperkuat kekhawatiran tersebut. Indonesia masuk dalam daftar enam negara dengan hunian paling tidak terjangkau di dunia, berada di bawah Filipina, Sri Lanka, Thailand, India, dan Korea Selatan. Posisi ini menegaskan betapa beratnya tantangan yang dihadapi masyarakat kelas menengah untuk memiliki properti sendiri, memperkuat data tentang Indonesia yang menempati peringkat keenam di dunia.

Abel Anita, warga Jakarta berusia 33 tahun, mengaku masih berharap bisa membeli rumah suatu hari nanti. Namun ia mengakui bahwa kondisi ekonomi saat ini membuat banyak orang memilih strategi bertahan hidup ketimbang berjuang mengejar cicilan. “Kalau untuk menyerah mungkin enggak ya. Cuma melihat kondisi ekonomi sekarang yang makin ke sini makin parah, jadi kebanyakan orang memilih kontrak dulu sambil nabung atau investasi,” ujarnya.

Bagi Abel, pendapatan sekitar Rp8 juta hingga Rp10 juta per bulan menjadi batas minimal untuk mulai memikirkan pembelian rumah. Akan tetapi, besarnya kebutuhan hidup sehari-hari membuat upaya mengumpulkan uang muka tetap menjadi momok tersendiri. Ia juga menyoroti beban KPR yang kerap memberatkan, terutama ketika bunga kredit berubah mengikuti kondisi pasar.

Bunga Floating Jadi Momok Pembeli Rumah

“Rumah di Jakarta masih mahal walaupun KPR. Sekitar Rp500 juta, tapi bunganya floating yang naik setiap tahun. Itu yang bikin kebanyakan orang jual rumah karena enggak kuat cicilannya,” kata Abel.

Ghina Nanda, warga Depok berusia 32 tahun, turut membagikan pengalaman serupa. Menurutnya, rumah subsidi pemerintah kerap berlokasi jauh dari pusat kegiatan ekonomi. “Rumah subsidi pro rakyat sekarang sudah jauh. Masa saya cari rumah subsidi sudah ke arah sana, menuju Bandung. Kalau tempat tinggal jauh dari tempat kerja, ongkos bertambah, capek juga karena tua di jalan,” kata Ghina yang bekerja di Jakarta.

Bahkan di kawasan Depok yang bukan termasuk pusat Ibu Kota, harga rumah sederhana di dalam gang kini sudah mendekati Rp1 miliar. Kondisi ini menunjukkan kesenjangan antara kemampuan finansial generasi muda dengan harga properti yang terus melambung.

UMR Belum Cukup Untuk Kejar Harga Rumah

Doni, warga Jakarta Utara berusia 33 tahun, menegaskan bahwa memiliki rumah tetap menjadi cita-cita hampir semua orang. Namun kenyataannya, besaran upah minimum yang diterima banyak pekerja masih jauh dari kata cukup untuk mengejar harga rumah yang terus naik.

“Susah karena kondisi UMR saat ini minim. UMR itu diperuntukkan untuk yang bujang, bukan untuk yang sudah berkeluarga,” ujar Doni.

Bagi banyak milenial Indonesia, masalahnya bukan lagi soal keinginan memiliki rumah. Tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana mengejar harga properti yang terus melambung di tengah biaya hidup yang semakin tinggi. Akibatnya, semakin banyak generasi muda yang memilih mengontrak, tinggal bersama keluarga lebih lama, atau mencari hunian di wilayah yang semakin jauh dari pusat kota demi mendapatkan harga yang lebih terjangkau.

Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan pelaku industri properti untuk segera mencari solusi agar mimpi memiliki rumah bagi generasi muda tidak semakin kabur. Situasi ini juga berkaitan erat dengan dampak nyata meroketnya dolar AS ke sektor perumahan yang semakin memperparah kondisi harga properti nasional.

Related Post

Leave a Comment