Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 33,3% sejak awal tahun 2026, mencatatkan diri sebagai salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia. Kejatuhan ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku pasar, terutama terkait dampaknya terhadap sektor riil termasuk properti dan perumahan.
Fundamental Kuat, Kepercayaan Rapuh
Pelaksana Tugas Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, memastikan bahwa fundamental perusahaan tercatat di BEI tetap dalam kondisi solid. Pada akhir tahun buku 2025, seluruh emiten membukukan pertumbuhan laba lebih dari 21%. Kuartal I-2026 semakin memukau — kelompok LQ45 mencatatkan kenaikan laba bersih 29,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“80% perusahaan tercatat berhasil membukukan laba bersih pada kuartal pertama tahun ini. Persentase ini menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir,” ungkap Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Data historis memperkuat klaim tersebut. Pada 2020, hanya 63% emiten yang mencatatkan laba bersih. Sepanjang 2021 hingga 2025, angkanya berada di kisaran 73%-76%, sebelum melonjak menjadi 80% di kuartal I-2026.
Krisis Kepercayaan, Bukan Krisis Fundamental
Founder Stocknow.id Hendra Wardana menilai penurunan tajam IHSG hingga menembus level psikologis 6.000 dan ditutup di 5.941 pada perdagangan 3 Juni 2026 menjadi sinyal bahwa pasar sedang mengalami krisis kepercayaan yang cukup serius.
“Penurunan ini bukan semata-mata dipicu oleh faktor eksternal seperti memanasnya kembali konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak dunia mendekati US$100 per barel, tetapi juga diperberat oleh berbagai sentimen domestik yang belum menemukan titik terang,” terang Hendra.
Ia merinci, pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, kekhawatiran terhadap kebijakan ekspor satu pintu, serta berlanjutnya arus keluar dana asing mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di Indonesia. Kondisi ini kontras dengan mayoritas bursa Asia yang justru menguat.
Dampak ke Sektor Properti dan Perumahan
Bagi sektor properti, krisis kepercayaan di pasar modal memiliki implikasi langsung yang tidak bisa diabaikan. Emiten properti yang tercatat di BEI mengalami tekanan serupa, dengan harga saham yang terkoreksi signifikan seiring investor asing melepas portofolio mereka.
Sejak awal tahun, investor asing tercatat melepas saham Indonesia senilai Rp56,36 triliun. Pada perdagangan kemarin saja, net foreign sell di seluruh pasar mencapai Rp993,29 miliar. Dana yang keluar dari pasar saham ini berpotensi mengurangi likuiditas di sektor properti, terutama untuk proyek-proyek yang mengandalkan pembiayaan dari pasar modal.
Pengembang perumahan subsidi maupun komersial kini menghadapi situasi ganda. Di satu sisi, harga material bangunan terus melonjak akibat pelemahan rupiah. Di sisi lain, akses pembiayaan melalui pasar modal menjadi semakin terbatas seiring menyusutnya kepercayaan investor.
Sinyal Bagi Calon Pembeli Rumah
Kondisi ini sebenarnya menyimpan peluang tersendiri bagi calon pembeli rumah. Ketika pasar saham mengalami koreksi dalam, sejumlah analis menyarankan untuk mempertimbangkan diversifikasi portofolio ke aset fisik seperti properti.
“Ketika pemerintah menyampaikan bahwa fundamental ekonomi masih kuat, namun pada saat yang sama rupiah terus melemah, IHSG menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia tahun ini, dan investor asing terus melakukan aksi jual, maka muncul kesenjangan antara narasi dan realitas pasar,” kata Hendra.
Bagi masyarakat yang selama ini menunggu waktu tepat untuk memiliki hunian, pelemahan pasar saham bisa menjadi momentum. Bunga KPR yang ditawarkan beberapa bank besar masih berada di level kompetitif, sementara harga properti di beberapa kawasan potensial belum mengalami kenaikan berlebihan.
Langkah BEI Pemulihkan Kepercayaan
BEI sendiri mengambil berbagai langkah strategis untuk memulihkan kepercayaan investor. Jeffrey Hendrik menjelaskan, peningkatan transparansi, penyajian data yang lebih rinci, serta penyampaian informasi terkait konsentrasi kepemilikan saham menjadi prioritas utama.
“Seluruhnya adalah upaya kami untuk meningkatkan kembali kepercayaan investor pada pasar kita,” tegas Jeffrey.
Ketika kepastian kebijakan dinilai berkurang dan pelaku pasar kesulitan memproyeksikan arah ekonomi ke depan, investor cenderung menunda penempatan dana atau mengalihkan investasinya ke negara yang dianggap lebih stabil. Namun, bagi mereka yang memiliki visi jangka panjang, kondisi ini justru membuka peluang untuk masuk ke aset properti dengan harga yang lebih terjangkau sebelum siklus pemulihan dimulai.













